contoh iklan header
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Pondok Nasi Bumbung Jl Ciangsana

Ada Kelezatan Unik Nasi nan Ajaib di dalam Bambu
Benar-benar kelezatan unik tiada banding

Buka dari pagi jam 10.00 s/d 21.00 WIB
Jl. Ciangsana Gunung Putri Bogor - bukankelanakuliner.com
Orang Indonesia pada umumnya memang pengkonsumsi beras terbesar di Asia. Bangsa kita memakan beras dalam beragam olahan, namun yang paling umum beras dimasak menjadi nasi. Bentuk makanan pokok lainnya seperti lontong, ketupat, arem-arem, bacang atau bahkan bubur merupakan alternatif olahan mengkonsumsi beras yang memang lebih nikmat dibandingkan memakan nasi ala kadarnya.


Pak Iskandar, the owner of Nabung
Karena alasan yang sama, beberapa daerah mengolah panganan nasi dengan beragam cara dan beragam media pemasak. Mulai dari panci logam biasa yang umum dipakai hampir semua daerah untuk menanak nasi hingga ketel besi seperti daerah Jawa Barat yang lebih dikenal dengan istilah nasi kastrol (unik kan seperti merek oli perusahaan minyak Amerika yah?).



Dikukus dalam bambu dan daun kelapa
Tentunya siapa sih yang gak bisa masak nasi, beragam cara yang bisa kita lakukan untuk masak nasi secara tradisional maupun modern. Seperti contohnya kita biasa memasak nasi dengan menggunakan alat tradisional panci yang biasa para ibu rumah tangga gunakan atau langsung dengan magic jar, si penanak nasi listrik otomatis.

Saat penyajian dikeluarkan dari bumbungnya
Caranyapun bisa dengan ditanak, dikukus, direbus. Dan rasanyapun bisa kita variasikan sendiri. Seperti yang kita kenal dari Sunda yang terkenal dengan nasi liwet atau biasa kita kenal nasi kasrol. Sekilas mirip seperti oli, tapi inilah bahasa kerennya panci atau ketel yang biasa orang Sunda gunakan untuk memasak nasi liwet.

Lain lagi dengan masyarakat Bali dan Sumatra yang biasa menyebut makanan pokok yang kaya akan karbohidrat ini dengan sebutan nasi belanga. Beda lagi dengan orang Jogdja, yang bisa memasak nasi dengan tungku atau kendil makanya masyarakat Kota Gudeg ini menyebutnya nasi kendil.

Kelezatan uniknya tiada tara
Nah ketika saya meeting di Bogor, tanpa sengaja saya melihat spanduk uni bertulisan Pondok Nasi Bumbung. Wah kayaknya unik neh, nasi dalam bumbung (bambu)... jadi inget sama lamang khas Sumatera Barat. Tapi itu kan dibuat dari beras ketan, bagaimana dengan yang satu ini?

Rasa penasaran bikin saya jadi mau datang dan pengen banget nyicipin menu Nasi Bumbung (Nabung), hmmmm...kebetulan harganya juga terjangkau (seandainya ada si Bos pemilik, bisa gratis neh!!!!)

Setelah tanya ini-itu sama pelayan warung, saya pun bulatkan tekad (nggak bulat banget seh, agak sedikit persegi lah) untuk mewawancarai sang pemilik resto. Saya pun bikin janjian ketemu dengan pak Iskandar. Dia pun setuju bikin janjian ketemu keesokan harinya. Asyik bisa makan gratis nasi bumbung sama lauknya yang gede-gede itu!

Setelah cas-cis-cus dengan sang pemilik pak Iskandar, gak lama kemudian hidangan yang saya pesan datang. Sekilas tampilanya unik dan rasanyapun tidak seperti nasi pada umumnya.

Dari bilah bambu sepanjang 8 centimeter menyembul ujung janur. Tarik perlahan ujung janur sambil jari mendorong dari bawah bambu. Sedikit demi sedikit kepulan nasi hangat yang meriah dengan isi muncul dan kian menggoda selera. Itulah nasi bumbung atau bisa disingkat Nabung.

Harga terjangkau rasa melampau
Setidaknya ada tujuh menu nasi bumbung antara lain Nabung bebek, Nabung ayam kampung, Nabung ayam negeri, Nabung udang, Nabung cumi-cumi, Nabung empal, dan Nabung telur. Eh enggak deng kayaknya ini baru rencana sang Chef, pak Asril.... tapi mungkin nanti-nanti kale yah?

Kapasitas 60 pengunjung
Selain dimasak di dalam bambu. Racikan nasi bumbung juga berbeda. Nasi putih dicampur potongan sosis, wortel, telur, daun bawang serta bumbu-bumbu.

 Keunikannya tentu saja terletak pada penyajian yang menggunakan bambu. Di daerah lain memang ada nasi bumbung yang memakai bambu hitam. Tapi karena langka yang warna hitam di Pondok Nasi Bumbung memakai bambu warna coklat.

Wangi aroma rempah dari dalam bambu
Selain dimasak di dalam bambu. Racikan nasi bumbung juga berbeda. Nasi putih dicampur potongan sosis (kayaknya usus dan jeroan ayam deh... atau juga daging ayam?), wortel, telur, daun bawang serta bumbu-bumbu. Lalu siapkan bilah bambu dan masukan janur untuk alas nasi. Masukkan nasi yang sudah dicampur ke dalam bilah bambu tersebut sampai padat, selanjutnya kukus selama 30 menit.

"Kita kukus lagi agar bumbu dan rasanya lebih meresap," jelas Asril, sang pemilik menu yang juga mitra usaha Pondok Nasi Bumbung bekerjasama dengan pak Iskandar. Setelah itu disajikan di atas nampan bambu ditemani lauk pauknya.

Setidaknya ada tujuh menu Nabung antara lain Nabung bebek, Nabung ayam kampung, Nabung ayam negeri, Nabung udang, Nabung cumi-cumi, Nabung empal, dan Nabung telur (sekali lagi baru mau dibikin menu nasi bumbung lainnya sama pak Asril, song chef). Satu porsinya ada di kisaran antara Rp 10 ribu untuk nabung telur dan  Rp 24 untuk menu nabung udang.

Menu lauk pauknya pas di lidah
Kalau ingin menu Nabung yang hemat, ada nabung ayam negeri yang per porsinya hanya Rp 12 ribu. Pengunjung juga bisa membawa bilah bambunya pulang tapi dikenakan biaya hanya Rp 1.000. (Kalo gue yang jadi pengusaha resto ini, khusus bambunya gue hargain Rp 10.000 perak kalo mau bawa pulang.... hehehehe... apalagi tuh bambu udah ada ukiran nama Pondok Nasi Bumbung... kan nilainya sama dengan souvenir bukan?)

Selain menu Nabung, andalan tempat ini juga Nasi Bakar. Nasi ini tidak disajikan dengan bambu. Tapi dalam proses pembuatannya, agak mirip dengan nasi uduk. "Saat memasak menggunakan santan dan bumbu-bumbu," ujar Iskandar, pemilik Pondok Nasi Bumbung Ciangsana saat ditemui di restonya yang buka dari jam 10.00 pagi hingga 10.00 malam.

Daftar menu transparan tak ada sembunyi2
Menurut lelaki yang juga bekerja di Depkominfo ini, menu lauknya pun tidak jauh beda dengan nasi bumbung. Ada nasi bakar bebek, nasi bakar ayam kampung, nasi bakar cumi dan lain-lain. Harganya pun hampir sama dengan menu Nabung. (Kalau dibeli semua, yah nggak bisa nabung dong?)

Nah, kalo ada banner yang kayak gene, pasti ada yang enak di dalamnya, Gan!
Inilah tempat makanan tradisional yang paling nikmat untuk keluarga.

Apalagi dengan suasana tempat yang mengingatkan kita dengan suasana desa. Tapi mungkin lebih pas lagi kalau Anda langsung saja datang ke tempat ini di bilangan jalan raya Ciangsana, Gunung Putri, Bogor, tak jauh dari samping Gerbang Villa Nusa Indah 5.

Ok sahabat, sampai jumpa di petualangan kuliner lainnya... dadaaaaaaaaaaaaaaaa! (ih jijai banget gaya gue yah!?)
Kandidat Calon Walikota Bekasi Heri Koswara

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
Kandidat Calon Walikota Bekasi, Heri Koswara