iklan banner gratis
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Es Gabus Dikira Spons, Aparat Minta Maaf: Saat Seragam Kalah oleh Tepung Hunkwe

iklan banner AlQuran 30 Juz

Es Gabus Dikira Spons, Aparat Minta Maaf: Saat Seragam Kalah oleh Tepung Hunkwe
Polda Metro Jaya Minta Maaf soal Penjual Es Jadul: Ketika Polisi, TNI, dan Es Gabus Bertemu dalam Drama Viral


 — JAKARTA | Humas Polda Metro Jaya akhirnya bersimpuh (secara simbolis) dan menyampaikan permohonan maaf kepada publik terkait insiden “pengamanan” pedagang es kue jadul (es gabus) di kawasan Kemayoran yang berujung viral beberapa waktu lalu.

Kasus viral mengenai penjual es gabus (es kue jadul) bernama Sudrajat yang dituduh menggunakan bahan spons oleh aparat telah berakhir dengan permintaan maaf dari pihak kepolisian dan TNI.

Insiden ini menyoroti kesalahpahaman aparat di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang mengira es yang terbuat dari tepung hunkwe tersebut sebagai spons berbahan berbahaya. 

Peristiwa ini menggabungkan tiga elemen yang tak pernah diduga warganet: seragam dinas yang berlebihan, jajanan nostalgia, dan kebingungan antara spons dengan tepung hunkwe.

Permintaan maaf itu disampaikan Rabu (28/1/2026), setelah video anggota Polri bersama oknum TNI menangkap pedagang es gabus karena dituduh memakai polyurethane foam alias spons berbahaya, beredar di media sosial dan memicu gelak tawa sampai kekhawatiran sekaligus.

Tuduhan itu kemudian dipatahkan oleh hasil pemeriksaan laboratorium yang memastikan jajanan yang viral tak terbuat dari spons sama sekali, melainkan dari tepung hunkwe, santan, gula, dan pewarna makanan—komponen pangan yang aman dikonsumsi.

Kabidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, menjelaskan bahwa niat personel di lapangan adalah memberikan edukasi dan memastikan keamanan masyarakat.

Namun dalam praktiknya, aksi itu lebih mirip adegan drama pendek ketimbang protokol penegakan aturan kesehatan pangan.

Kami menyampaikan permohonan maaf apabila dalam upaya tindakan yang dilakukan oleh personel kami menimbulkan persepsi yang kurang baik ataupun kurang tepat." ungkap Budi kepada awak media

"Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi,” lanjutnya, seraya berharap publik tidak menganggap jajanan nostalgia sebagai ancaman nasional.

Budi juga menegaskan bahwa POLRI tidak berniat mematikan atau menghambat usaha UMKM, termasuk pedagang es gabus yang sebenarnya hanya ingin menjual camilan tradisional bertekstur kenyal ini.

Sayangnya, dalam perjalanan cerita, logika berpikir beberapa oknum di lapangan ternyata ikut “mencair” seperti es yang dituduhnya terbuat dari spons.

Kepolisian tidak pernah mematikan atau menghambat kegiatan UMKM masyarakat. Namun apa pun itu, kami memahami secara psikologis adanya kekecewaan publik,” ujar Budi dengan nada yang terdengar ingin menambal reputasi sambil berharap es gabus tidak diusir dari warung-warung kecil di seluruh negeri.

Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Metro Jaya kini tengah melakukan pendalaman atas peristiwa tersebut untuk memastikan apakah tindakan oknum aparat sudah sesuai prosedur atau justru terlalu cepat mengambil kesimpulan—tanpa menunggu hasil uji laboratorium, yang akhirnya diralat belakangan hari.

Publik, di sisi lain, tampak sudah putuskan pepatah baru: lebih cepat viral daripada cepat teliti.

Sementara itu, es gabus—jajanan jadul yang terbuat dari tepung hunkwe, bukan dari spons—kembali menjadi simbol nostalgia yang aman dikonsumsi, tetapi juga pengingat bahwa kebodohan—bahkan yang berseragam—dapat mencairkan wibawa institusi lebih cepat daripada es di bawah terik Jakarta. [■] 

Reporter: NMR Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL


iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama