Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Fokus Respons Kasus LGBT, Litbang MUI Kota Bekasi Perkuat Dakwah Wilayah

iklan banner AlQuran 30 Juz

Ketua Komisi Litbang MUI: Khatib Akan Dikumpulkan, Dakwah Diminta Sejuk dan Edukatif di Setiap MUI Kelurahan


Saat banyak isu dipertanyakan publik, Komisi Litbang MUI Kota Bekasi, Ustadz Sohibul Wafa justru mengunci fokus pada satu hal: penguatan dakwah wilayah untuk merespons isu LGBT dengan pendekatan persuasif dan tidak provokatif.

 — KOTA BEKASI | Komisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi menegaskan arah kerja strategisnya dalam merespons isu-isu sosial keagamaan sepanjang 2025 dan rencana 2026, khususnya terkait fenomena LGBT di tengah masyarakat.

Ketua Komisi Litbang MUI Kota Bekasi, KH Sohibul Wafa, kandidat doktoral untuk bidang moderasi beragama ini katakan bahwa pendekatan yang ditempuh bukan bersifat represif, melainkan melalui penguatan dakwah yang edukatif, persuasif, dan menyejukkan di tingkat wilayah.

Kami berencana mengumpulkan para khatib di setiap wilayah untuk menyamakan persepsi dan memperkuat materi dakwah agar lebih edukatif dan tidak provokatif,” ujar KH Sohibul Wafa dalam wawancara eksklusif dengan Kandidat pada Selasa (27/1/2026) di kantor MUI Kota Bekasi.

Dakwah sebagai Instrumen Sosial
Menurut pak dosen Sohibul Wafa, dakwah tidak hanya diposisikan sebagai penyampaian ajaran agama, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk membangun ketahanan moral masyarakat.

Komisi Litbang menilai bahwa penguatan nilai spiritual menjadi fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang beradab.

Ia bahkan menarik refleksi historis dengan menyebut model pendidikan karakter di masa lalu.

Pengembangan spiritual di masyarakat itu sangat penting, seperti dulu ada pendidikan P4 di sekolah. Dari situ kita punya nilai-nilai masyarakat yang beradab,” katanya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Litbang MUI Kota Bekasi memandang isu sosial keagamaan sebagai persoalan jangka panjang yang membutuhkan pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat.

Peran Khatib dan Ruang Publik
Dalam kerangka kerja Litbang, para khatib ditempatkan sebagai garda terdepan dalam membangun kesadaran umat.

Mereka diharapkan mampu menyampaikan pesan moral keagamaan yang tidak menghakimi, tetapi tetap tegas dalam nilai.

Namun demikian, dalam pemaparannya, belum diuraikan secara rinci bagaimana bentuk kajian Litbang yang menjadi dasar perumusan strategi dakwah tersebut.

Tidak dijelaskan pula apakah pendekatan ini lahir dari riset lapangan, pemetaan sosial, atau kajian akademik yang terstruktur.

Secara khas Sohibul Wafa menambahkan, ada 3 Teori Ilmiah yang dilakukan oleh Litbang MUI Kota Bekasi :
  1. Grand Theory (Teori Besar)
  2. Middle Theory (Teori Menengah)
  3. Implementation (Penerapan Teori)

Grand Theory: Memperkuat Dakwah Wilayah

Kita tahu, bahwa Kota Bekasi memiliki 12 Kecamatan dan 56 kelurahan. Dari 56 kelurahan tentunya kita mulai memetakan wilayah berbasis RT dan RW.

Secara bertahap dengan basis RT dan RW kita mulai  mendata berapa sebenarnya jumlah tokoh agama di setiap lingkungan.

Karena, budaya bahaya laten dalam hal ini LGBT hanya bisa dicegah melalu Social Control (pengawasan sosial) dan itu harus digerakkan oleh tokoh agama, sehingga hal-hal yang berdampak pada sikap yang kasar dan menyimpang bisa kita cegah.

Dakwah itu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik diikuti argumentasi yang bisa diterima. 

Middle Theory: Teori Menengah

Pendekatan persuasif pada kelompok-kelompok pengajian. Mendata melalui basis RT dan RW agar dapat di lakukan pendataan secara detail.

Berapa jumlah guru dan berapa jumlah santri baik laki maupun perempuan.

Pencegahan dan edukasi bahaya laten LGBT melalui Kurikulum Muatan Lokal karya MUI dapat di lakukan dari mulai SD sampa SMU dan bukan hanya itu, kurikulum muatan lokal juga mengedukasi pentingnya harmonisasi wilayah melalui Moderasi Beragama.

Implementation: Penerapan Teori

Puncaknya adalah agar interpretasi bisa diterapkan di dalam pergaulan. Dan para ulama, guru harus bisa melakukan itu, ungkap Sohibul Wafa.

"Menjadi motor penggerak hidup sehat, mengikuti moral tanpa LGBT dan sekaligus harmonisasi keberagaman melalui moderasi yang berazaskan pada Pancasila." imbuh Sohibul Wafa.

Sinergi Tanpa Detail Teknis

KH Sohibul Wafa menekankan pentingnya sinergi antara ulama, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat termasuk media massa dalam menangani persoalan sosial secara humanis dan konstitusional.

Menurutnya, pembinaan harus tetap berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal yang hidup di Kota Bekasi.

Meski demikian, sejumlah aspek teknis yang berkaitan dengan fungsi Litbang sebagai pusat kajian—seperti indikator keberhasilan program, dokumentasi riset, atau publikasi hasil kajian—belum terungkap dalam penjelasan tersebut.

Antara Gagasan Normatif dan Kerja Litbang

Pernyataan Ketua Komisi Litbang MUI Kota Bekasi ini menggambarkan arah normatif dan ideologis yang jelas dalam merespons isu LGBT.

Namun, dalam konteks fungsi Litbang sebagai lembaga penelitian dan pengembangan, publik masih menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai:
  • Bentuk kajian ilmiah yang dilakukan sepanjang 2025
  • Metodologi yang digunakan dalam merumuskan strategi dakwah
  • Peran Litbang dalam memberi rekomendasi kebijakan berbasis data

Ke depan, tantangan Komisi Litbang bukan hanya menjaga keteguhan nilai, tetapi juga memastikan bahwa setiap sikap dan program yang dijalankan berangkat dari kajian yang terukur, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan sosial.

"Pada prinsipnya... Litbang MUI Kota Bekasi melakukan tahapan penelitian dari studi lapangan melalui wawancara langsung atau memetakan wilayah berdasarkan kebutuhan, Forum Group Diskusi, dan Pustaka." pungkas Sohibul Wafa.

Sebab di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks, dakwah yang kuat tidak hanya lahir dari niat baik, tetapi juga dari pemetaan masalah yang tepat dan kerja riset yang konsisten. [■] 

Reporter: NMR Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama