Anggota DPRD Kota Bekasi dari PKS, Saifuddaulah, didampingi Heri Koswara, Serap Keluhan Jalan Rusak Hingga Lele
Suasana buka puasa di Warkop Oyot, Jakamulya, Rabu (25/2/2026), mendadak berubah jadi “sidang rakyat mini”. Warga datang bukan cuma bawa takjil, tapi juga daftar panjang aspirasi. Dari jalan berlubang sampai ternak lele yang berharap tak cuma digoreng, tapi juga diperjuangkan dalam APBD.
— KOTA BEKASI | Bulan puasa memang identik dengan takjil dan kolak, tapi di Warkop Oyot, Jakamulya, Rabu (25/2/2026), yang diseruput bukan cuma es teh manis.Aspirasi warga juga ikut “dihangatkan” dalam agenda silaturahmi dan buka puasa bersama Anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi dari Fraksi PKS, H.M. Saifuddaulah, SH., MH., MPdI.
Acara yang dihadiri Sekretaris MPW PKS Jawa Barat, H. Heri Koswara, MA. ini bukan sekadar temu kangen politikus dengan konstituen.
Acara yang dihadiri Sekretaris MPW PKS Jawa Barat, H. Heri Koswara, MA. ini bukan sekadar temu kangen politikus dengan konstituen.
Dari sudut pandang warga, ini momen sakral: tempat menitipkan harapan agar janji-janji kampanye tak ikut berbuka lalu hilang saat tarawih.
“Alhamdulillah, banyak aspirasi berkembang,” kata Bang Heri panggilan akrab Heri Koswara.
“Alhamdulillah, banyak aspirasi berkembang,” kata Bang Heri panggilan akrab Heri Koswara.
Nah, warga tentu berharap kata “berkembang” ini bukan cuma berkembang di grup WhatsApp, tapi juga berkembang jadi Perda, jadi kebijakan, jadi program nyata.
Lele, Jalan Rusak, dan Lampu yang Remang-Remang
Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah perhatian terhadap usaha ternak lele warga Bekasi Barat. Warga tentu senang kalau lele mereka bukan cuma berkembang biak, tapi juga berkembang omzetnya.
Karena bagi rakyat kecil, bantuan bukan soal besar-kecilnya angka, tapi soal hadir atau tidaknya negara. Jangan sampai lele-nya subur, tapi kebijakan pendukungnya malah mandul.
Selain itu, warga juga menyuarakan soal jalan lingkungan yang butuh perbaikan, drainase yang kalau hujan berubah jadi kolam renang dadakan, hingga penerangan jalan umum yang kadang bikin suasana seperti uji nyali.
Di sinilah warga berharap, aspirasi yang disampaikan tak berhenti di meja notulen.
Lele, Jalan Rusak, dan Lampu yang Remang-Remang
Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah perhatian terhadap usaha ternak lele warga Bekasi Barat. Warga tentu senang kalau lele mereka bukan cuma berkembang biak, tapi juga berkembang omzetnya.
Karena bagi rakyat kecil, bantuan bukan soal besar-kecilnya angka, tapi soal hadir atau tidaknya negara. Jangan sampai lele-nya subur, tapi kebijakan pendukungnya malah mandul.
Selain itu, warga juga menyuarakan soal jalan lingkungan yang butuh perbaikan, drainase yang kalau hujan berubah jadi kolam renang dadakan, hingga penerangan jalan umum yang kadang bikin suasana seperti uji nyali.
Di sinilah warga berharap, aspirasi yang disampaikan tak berhenti di meja notulen.
Karena pengalaman mengajarkan, aspirasi itu kadang rajin dicatat, tapi jarang dicairkan.
Dari Warkop ke KUA-PPAS
Saifuddaulah menjelaskan bahwa tugas anggota dewan adalah mengawal aspirasi melalui mekanisme perencanaan anggaran hingga masuk dokumen KUA-PPAS dan disahkan dalam APBD.
Bahasa kerennya: penganggaran, pengawasan, dan pembentukan peraturan daerah.
Bahasa warga: “Yang penting jalan depan rumah gue beneran dibenerin, bang.”
Saifuddaulah juga menegaskan anggota dewan bukan eksekutor proyek dan tak punya kewenangan menentukan vendor.
Nah, warga sebenarnya paham. Mereka tak minta dewan jadi mandor proyek. Mereka cuma minta satu hal sederhana: jangan sampai aspirasi mereka hilang di tengah rapat, seperti sinyal WiFi saat hujan deras.
Jaringan Dijaga, Harapan Jangan Kendor
Bang Heri menyampaikan bahwa PKS Jawa Barat kini fokus memperkuat struktur hingga tingkat kelurahan. Struktur solid tentu penting untuk kontestasi politik ke depan.
Namun bagi warga, yang lebih penting dari struktur adalah infrastruktur.
Struktur partai boleh rapi sampai tingkat RT, tapi kalau drainase tetap mampet, warga tetap yang basah kuyup.
Warga konstituen tentu ingin hubungan politik ini bukan sekadar romantika lima tahunan.
Dari Warkop ke KUA-PPAS
Saifuddaulah menjelaskan bahwa tugas anggota dewan adalah mengawal aspirasi melalui mekanisme perencanaan anggaran hingga masuk dokumen KUA-PPAS dan disahkan dalam APBD.
Bahasa kerennya: penganggaran, pengawasan, dan pembentukan peraturan daerah.
Bahasa warga: “Yang penting jalan depan rumah gue beneran dibenerin, bang.”
Saifuddaulah juga menegaskan anggota dewan bukan eksekutor proyek dan tak punya kewenangan menentukan vendor.
Nah, warga sebenarnya paham. Mereka tak minta dewan jadi mandor proyek. Mereka cuma minta satu hal sederhana: jangan sampai aspirasi mereka hilang di tengah rapat, seperti sinyal WiFi saat hujan deras.
Jaringan Dijaga, Harapan Jangan Kendor
Bang Heri menyampaikan bahwa PKS Jawa Barat kini fokus memperkuat struktur hingga tingkat kelurahan. Struktur solid tentu penting untuk kontestasi politik ke depan.
Namun bagi warga, yang lebih penting dari struktur adalah infrastruktur.
Struktur partai boleh rapi sampai tingkat RT, tapi kalau drainase tetap mampet, warga tetap yang basah kuyup.
Warga konstituen tentu ingin hubungan politik ini bukan sekadar romantika lima tahunan.
Silaturahmi bukan hanya saat Ramadhan, tapi juga saat pembahasan anggaran. Jangan cuma kuat di spanduk, tapi juga kuat di sidang.
Aspirasi Itu Bukan Pajangan
Buka puasa di Warkop Oyot mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tapi harapan warga bisa bertahan lima tahun.
Warga Bekasi, terutama dari Bekasi Barat dan Pondok Gede sebagai dapil Saifuddaulah, tentu berharap para wakilnya benar-benar mengawal suara mereka hingga berubah menjadi regulasi, Perda, dan kebijakan konkret.
Karena pada akhirnya, politik bukan soal siapa paling sering turun ke warkop. Politik adalah soal siapa yang paling serius membawa aspirasi itu naik ke meja legislasi — lalu mengetok palu dengan nurani.
Aspirasi Itu Bukan Pajangan
Buka puasa di Warkop Oyot mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tapi harapan warga bisa bertahan lima tahun.
Warga Bekasi, terutama dari Bekasi Barat dan Pondok Gede sebagai dapil Saifuddaulah, tentu berharap para wakilnya benar-benar mengawal suara mereka hingga berubah menjadi regulasi, Perda, dan kebijakan konkret.
Karena pada akhirnya, politik bukan soal siapa paling sering turun ke warkop. Politik adalah soal siapa yang paling serius membawa aspirasi itu naik ke meja legislasi — lalu mengetok palu dengan nurani.
