HUT ke-29, Kado Spesial dari Kota Bekasi: Sedot WC Diskon, Warga Bilang “Akhirnya yang Mampet Diperhatikan!”
kandidat-kandidat.com | Selasa, 24 Feb 2026, 21:52 WIB| DikRiz

— KOTA BEKASI | Musim hujan di Kota Bekasi bukan cuma soal jalan jadi kolam dan motor berubah fungsi jadi perahu bebek.

Musim hujan di Kota Bekasi tak hanya bikin jalanan tergenang, tapi juga membuat septictank warga cepat penuh. WC pun mendadak susah disiram tuntas. Bertepatan dengan HUT ke-29, Pemkot memberi diskon layanan penyedotan air limbah domestik—kabar yang disambut warga dengan campuran lega dan tawa.
— KOTA BEKASI | Musim hujan di Kota Bekasi bukan cuma soal jalan jadi kolam dan motor berubah fungsi jadi perahu bebek.Ada satu masalah klasik yang jarang masuk headline, tapi sering bikin panik satu rumah: septic tank mendadak cepat penuh, WC susah disiram, dan air di kloset seperti ogah turun walau sudah diguyur setengah ember.
“Baru hujan dua hari, WC sudah kayak lagi mikir panjang sebelum nurut,” celetuk Rahmat (43), warga Bekasi Selatan, sambil menunjuk kamar mandi yang kini lebih sensitif dari grup WhatsApp keluarga.
Baca juga: Program Sedot WC Gratis, UPTD PALD Kota Bekasi Dinilai Terlambat Jika Mengejar 100 Hari Kerja Walikota Zero Complain
Fenomena ini memang kerap terjadi saat curah hujan tinggi. Air tanah naik, rembesan masuk ke dalam septic tank, dan tahu-tahu limbah domestik di rumah warga ikut “overthinking”.
Hasilnya? WC mampet, air meluap pelan-pelan, dan penghuni rumah mulai menghitung nomor telepon jasa sedot WC lebih cepat daripada menghitung tanggal gajian.
Di tengah situasi yang bikin dahi berkerut sekaligus hidung waspada itu, Pemerintah Kota Bekasi akhirnya mengumumkan kabar yang bisa dibilang cukup melegakan.
Dalam rangka HUT ke-29, Pemkot memberlakukan pengurangan tarif retribusi layanan penyedotan air limbah domestik yang semuanya dikelola oleh Dinas BLUD PALD.
Walikota Bekasi, Tri Adhianto, pada saat itu menyampaikan bahwa kebijakan ini bukan sekadar seremoni ulang tahun, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan lingkungan dan kesejahteraan warga.
“Peringatan HUT ke-29 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata. Pengurangan tarif retribusi layanan penyedotan air limbah domestik ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesehatan lingkungan dan kesejahteraan warga,” ujar Tri Adhianto dalam siaran persnya.
Bagi warga, manfaat nyata itu terasa sangat konkret. Bukan cuma soal diskon, tapi soal rasa tenang ketika hujan turun deras semalaman.
“Kalau lagi banjir kiriman, yang penuh bukan cuma jalan, Pak. Septictank juga ikut-ikutan. Jadi kalau ada diskon sedot, ya lumayan. Daripada nunggu WC benar-benar demo,” ujar Siti (36), warga Rawalumbu, sambil tertawa getir.
Pemkot berharap kebijakan ini mendorong masyarakat memanfaatkan layanan penyedotan secara legal dan terjadwal agar sanitasi tetap terjaga sesuai standar kesehatan.
Sebab, pengelolaan limbah domestik yang baik bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal mencegah pencemaran dan penyakit.
Namun di balik humor yang beredar di warung kopi, warga tetap menyelipkan harapan serius. Mereka ingin solusi jangka panjang: perbaikan drainase, pengendalian banjir, hingga sistem sanitasi yang lebih tahan terhadap musim hujan ekstrem.
“Diskon sih syukur. Tapi kalau bisa, airnya jangan sampai masuk ke septictank juga. Masa tiap hujan kita deg-degan bukan cuma lihat sungai, tapi juga lihat kloset,” kata seorang warga sambil tersenyum.
Program pengurangan tarif ini berlaku sesuai periode dan ketentuan dalam Surat Keputusan Walikota.
Pemkot pun berjanji akan melakukan sosialisasi secara masif agar warga tahu dan bisa memanfaatkan kesempatan tersebut.
Di usia ke-29, Kota Bekasi tampaknya ingin membuktikan bahwa membangun kota bukan cuma soal flyover dan gedung tinggi, tapi juga soal hal-hal mendasar—termasuk urusan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya langsung terasa di rumah-rumah warga.
Sebab bagi warga saat musim hujan, kota yang maju itu sederhana: jalan tidak banjir, dan WC tidak ikut-ikutan meluap. [■]