Suara Hati Warga, Ust Wanda: Ramadhan Bukan Cuma Soal Ibadah, Tapi Juga Soal Keberanian Lawan Kecurangan
Bulan suci Ramadhan kembali mengetuk pintu hati umat Islam. Namun di tengah khusyuknya tarawih dan tadarus, seorang muslim menyuarakan pesan menohok tapi penuh harap: sudah saatnya aparat dan pejabat ikut “berpuasa” dari praktik suap, kolusi, dan segala bentuk uang haram yang merusak diri serta generasi bangsa.
— BEKASI KOTA | Di tengah suasana bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum penyucian diri, seorang muslim yang peduli terhadap kondisi sosial dan moral bangsa menyuarakan imbauan terbuka kepada para pejabat publik dan aparat penegak hukum di seluruh Indonesia.Adalah Ustadz M. Wanda, pemilik Yayasan Al Falah dan pengurus DKM Al-Falah Durenjaya RW. 003 Kecamatan Bekasi Timur yang juga anggota Kokam Pemuda Muhammadiyah Bekasi Timur ini menilai, Ramadhan bukan hanya soal memperbanyak ibadah ritual seperti salat dan sedekah, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat komitmen amar ma’ruf nahi mungkar — mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran — termasuk dalam ranah kekuasaan dan penegakan hukum.
Menurutnya, keprihatinan masyarakat bukan tanpa alasan. Isu kecurangan, kolusi, nepotisme, hingga praktik korupsi masih menjadi bayang-bayang dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Belum lagi persoalan kemaksiatan yang dibiarkan tumbuh, mulai dari peredaran narkoba hingga obat-obatan daftar G yang kini bahkan disebut-sebut dijual bebas di kios pinggir jalan dengan harga terjangkau anak-anak.
“Bayangkan kalau itu terjadi pada anak sendiri,” ujarnya dalam pesannya yang beredar di media sosial.
“Bayangkan kalau itu terjadi pada anak sendiri,” ujarnya dalam pesannya yang beredar di media sosial.
Ia mengingatkan bahwa obat-obatan daftar G dapat memicu gangguan mental, perilaku brutal, hingga membahayakan keselamatan jiwa dan lingkungan sekitar.
Situasi ini, menurutnya, bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi ancaman nyata bagi masa depan generasi bangsa.
Dalam pesannya, ia juga mengingatkan aparat seperti Polisi, Satpol PP, serta para pejabat pemerintahan agar tidak tergoda menerima “uang koordinasi” atau bentuk suap lainnya.
Ia menegaskan bahwa pemberi dan penerima suap sama-sama menanggung dosa besar.
“Ajal tidak menanti kita bertobat. Tidak ada yang tahu kapan datangnya. Hisab itu pasti,” tulisnya, mengajak semua pihak untuk segera berbenah diri sebelum terlambat.
Seruan tersebut tidak bernada menghakimi, melainkan lebih sebagai refleksi dan ajakan moral.
“Jadilah kesatria sesuai sumpah prajurit. Jangan diam membiarkan kemaksiatan merajalela hingga mengundang murka Allah,” lanjutnya.
Tak hanya aparat, ia juga mengajak ormas dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memberantas narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan. Menurutnya, tanggung jawab menjaga moral dan masa depan bangsa bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kewajiban kolektif.
“Ajal tidak menanti kita bertobat. Tidak ada yang tahu kapan datangnya. Hisab itu pasti,” tulisnya, mengajak semua pihak untuk segera berbenah diri sebelum terlambat.
Seruan tersebut tidak bernada menghakimi, melainkan lebih sebagai refleksi dan ajakan moral.
Ia berharap Ramadhan menjadi titik balik bagi aparat dan pejabat untuk kembali pada sumpah jabatan, bekerja dengan jujur, ikhlas, serta berani bersikap tegas terhadap kemungkaran.
“Jadilah kesatria sesuai sumpah prajurit. Jangan diam membiarkan kemaksiatan merajalela hingga mengundang murka Allah,” lanjutnya.
Tak hanya aparat, ia juga mengajak ormas dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memberantas narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan. Menurutnya, tanggung jawab menjaga moral dan masa depan bangsa bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kewajiban kolektif.
Ramadhan, katanya, adalah momentum terbaik untuk bertobat dan memperbaiki diri. Ia pun menutup pesannya dengan doa agar seluruh aparat hukum, pejabat, dan masyarakat Indonesia diberikan hidayah kejujuran, keikhlasan, serta kemudahan dalam menjalankan amanah.
Sebuah seruan sederhana dari seorang hamba yang merasa dhaif, namun menyimpan harapan besar: agar negeri ini bersih dari praktik haram yang meracuni generasi, dan agar kekuasaan dijalankan sebagai amanah, bukan sebagai ladang keuntungan pribadi.
Sebuah seruan sederhana dari seorang hamba yang merasa dhaif, namun menyimpan harapan besar: agar negeri ini bersih dari praktik haram yang meracuni generasi, dan agar kekuasaan dijalankan sebagai amanah, bukan sebagai ladang keuntungan pribadi.

