Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

RS Mewah, Hati Publik Terluka? Polemik Komunikasi Dokter di RS Hermina Bekasi

iklan banner AlQuran 30 Juz

Fasilitas Triliunan vs Luka Perasaan: Prognosa Bikin Heboh Warga, “Yang Mahal Gedungnya atau Empatinya?”

kandidat-kandidat.com | Rabu, 20 Mei 2026, 17:13 WIBNMR/DR

Mediasi berlangsung tertutup bersama keluarga pasien, wartawan, aparat keamanan dan manajemen rumah sakit. Namun permintaan sederhana keluarga: dipertemukan dengan dokter jaga dan mendapat permintaan maaf, justru belum terjawab.

 — KOTA BEKASI| Di tengah citra rumah sakit modern dengan fasilitas medis miliaran rupiah dan teknologi supercanggih, publik justru kembali diingatkan bahwa persoalan paling sensitif dalam dunia kesehatan bukan hanya soal alat, melainkan cara komunikasi kepada pasien dan keluarga.

Polemik dugaan miskomunikasi prognosis pasien Yola Adinda Kamil (28) di RS Hermina Bekasi kini memantik wacana ketidakpercayaan publik terhadap sikap manajemen rumah sakit yang dinilai lebih defensif melindungi dokter jaga dibanding memulihkan luka psikologis keluarga pasien.

Pertemuan ketiga antara manajemen RS Hermina dan perwakilan keluarga pasien Yola, Selasa (19/5/2026)

Ruang mediasi kecil di salah satu sudut RS Hermina Bekasi itu tampak penuh dan tegang. Perwakilan keluarga pasien, wartawan pendamping, aparat keamanan internal rumah sakit, unsur TNI hingga pihak kepolisian duduk dalam satu meja. Semua mencoba mencari titik temu atas polemik komunikasi medis yang beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik.

Di tengah suasana formal itu, sebenarnya ada satu permintaan sederhana dari keluarga pasien Yola Adinda Kamil: dipertemukan langsung dengan dokter jaga yang diduga menyampaikan prognosis secara tidak tepat sehingga menimbulkan tekanan psikologis mendalam bagi pasien maupun keluarga.

Namun hingga pertemuan ketiga berlangsung, harapan tersebut belum juga terpenuhi.

Padahal, pihak manajemen rumah sakit melalui dr. Balqis selaku Wakil Direktur RS Hermina Bekasi, dan tim dokter lainnya telah berulang kali menegaskan bahwa tidak ada unsur malapraktik ataupun pelanggaran etik profesi kedokteran.

Menurut mereka, yang terjadi hanyalah perbedaan penafsiran dalam penyampaian prognosis medis terhadap kondisi neurologis pasien yang saat itu sedang kritis.

Keluarga pasien sendiri mengaku tidak sedang mencari konflik hukum maupun tuntutan berlebihan. Mereka hanya menginginkan klarifikasi langsung dan permintaan maaf apabila memang terjadi kesalahpahaman komunikasi.

“Jadi kami hanya ingin dipertemukan dengan dokter jaga itu, supaya ada penjelasan langsung dan permintaan maaf jika memang penyampaiannya membuat kami salah paham,” ujar Ratna, ibu pasien Yola Adinda Kamil.

Namun justru di titik inilah muncul persepsi publik yang mulai berkembang liar.

Di satu sisi, RS Hermina Bekasi dikenal sebagai bagian dari jaringan rumah sakit besar dengan fasilitas modern, dokter spesialis lengkap, hingga teknologi kesehatan yang terus berkembang.


Dalam berbagai daftar industri kesehatan nasional, grup rumah sakit besar di Jabodetabek bahkan disebut memiliki nilai aset hingga triliunan rupiah dengan dukungan alat medis premium, ruang ICU modern, MRI, CT Scan, hingga layanan neurologi intensif.

Tetapi bagi sebagian masyarakat, kemewahan fasilitas kesehatan tidak otomatis menghadirkan rasa empati apabila komunikasi kepada pasien dianggap kaku, defensif, atau terlalu normatif.

Publik mulai mempertanyakan: mengapa permintaan sederhana untuk mempertemukan keluarga dengan dokter jaga justru terasa begitu sulit?

Pertanyaan itu semakin sensitif karena di tengah proses mediasi, pihak rumah sakit justru menawarkan kompensasi konsultasi psikiater gratis kepada keluarga dan pasien setelah menjalani penanganan di RS PON Cawang, Jakarta.

Negosiasi antara perwakilan keluarga oleh wartawan Bonanza Panjaitan dengan RS Hermina tak menemui kesepakatan. Selasa (19/5/2026)

Niat tersebut memang dapat dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral dan perhatian psikologis. Namun di mata keluarga pasien, tawaran itu belum menyentuh inti persoalan.

Sebab yang mereka tunggu bukan sekadar layanan tambahan, melainkan keberanian moral untuk membuka ruang dialog langsung dengan dokter yang dianggap menjadi awal munculnya trauma psikologis tersebut.

Di ruang publik, kasus ini kemudian berkembang bukan lagi semata soal benar atau salah secara medis, melainkan tentang rasa empati dan kepercayaan.

Masyarakat awam umumnya memahami bahwa dokter wajib menjelaskan prognosis penyakit secara jujur. Namun di sisi lain, publik juga berharap bahasa medis yang berat dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, terutama saat keluarga sedang panik menghadapi kondisi kritis pasien.

Karena dalam situasi genting, satu kalimat yang secara medis dianggap prosedural bisa berubah menjadi tekanan mental luar biasa ketika diterima keluarga dalam kondisi emosional.

Itulah sebabnya polemik ini perlahan memunculkan kritik sosial yang lebih luas terhadap budaya komunikasi di sebagian institusi kesehatan modern: rumah sakit dinilai sangat maju dalam teknologi, tetapi kadang terlambat dalam pendekatan empati.

Pihak manajemen RS Hermina Bekasi diwakili dr. Adam, dr. Rahim dan Kepala Bagian ICU RS pada Selasa (19/5/2026).

Apalagi hingga kini, keluarga pasien merasa dokter jaga yang dimaksud masih seolah “disembunyikan” di balik struktur manajemen dan alasan kesibukan internal rumah sakit.

Saya tidak mau pihak rumah sakit terkesan melindungi dokter jaga itu. Kami hanya ingin dipertemukan secara baik-baik,” kata Ratna lagi.

Meski demikian, pihak manajemen RS Hermina Bekasi tetap menegaskan bahwa seluruh komunikasi medis yang dilakukan dokter saat itu sudah sesuai prosedur profesi kedokteran dan tidak pernah bermaksud menentukan “usia hidup pasien tinggal lima hari” sebagaimana berkembang di tengah masyarakat.

Polemik ini kini menjadi cermin penting bahwa pelayanan kesehatan modern tidak cukup hanya mengandalkan gedung megah, alat mahal, dan reputasi besar.

Sebab pada akhirnya, kepercayaan publik justru paling mudah runtuh bukan karena teknologi yang kurang canggih, melainkan karena komunikasi yang dianggap kehilangan sisi kemanusiaannya. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama