Heikal Safar Ketemu Dasco di Gedung DPR RI: Partai Ummat Mulai Cari Jalan Keluar dari “Kursi Kosong” Pemilu 2029
kandidat-kandidat.com | Senin, 20 Juli 2026, 14:02 WIB | NMR/DR
— JAKARTA | Sabtu siang, 19 Juli 2026, Heikal Safar mendatangi Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta.
Nofalia Heikal Safar, Heikal Safar Ketua Harian DPP Partai UMMAT, Sufmi Dasco Ahmad Ketua Harian DPP Partai Gerindra dan Wakil Ketua DPRD RI beserta Sekretaris Jenderal DPP Partai Ummat Taufik Hidayat.
Safari politik ke Dasco bukan sekadar silaturahmi. Ada agenda lebih besar: mengubah Partai Ummat dari partai baru yang pernah gagal menembus parlemen menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan—dan memperjuangkan agar suara partai pemula tak kembali hilang di bilik-bilik penghitungan.
— JAKARTA | Sabtu siang, 19 Juli 2026, Heikal Safar mendatangi Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta.Ia tidak datang untuk kampanye. Pemilu masih tiga tahun lagi. Tidak pula membawa rombongan massa. Yang ditemuinya adalah Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR RI.
Dalam kunjungan tersebut, Heikal didampingi Sekretaris Jenderal Partai Ummat, Taufik Hidayat, serta istrinya, Nofalia Heikal Safar.
Pertemuan itu tampak seperti agenda silaturahmi politik biasa. Namun, bagi Partai Ummat, pertemuan tersebut menyimpan arti yang lebih besar.
Heikal sedang memulai pekerjaan panjang.
Pekerjaan itu adalah mengembalikan Partai Ummat ke dalam percakapan politik nasional—bukan sekadar sebagai partai peserta pemilu, melainkan sebagai kekuatan politik yang memiliki gagasan, jaringan, daya tawar, dan kepercayaan publik.
Pemilu 2029 menjadi titik tujuannya.
Ketua Harian DPP Partai Ummat periode 2025–2030 itu tampaknya memahami satu hal: partai politik tidak bisa tiba-tiba menjadi besar ketika tahapan pemilu telah dimulai.
Partai yang terlambat membangun jaringan akan tertinggal.
Partai yang terlambat menyusun gagasan akan sibuk mencari slogan.
Dan partai yang baru mencari pemilih menjelang pencoblosan biasanya hanya memiliki waktu untuk berharap.
Heikal memilih bergerak lebih awal.
Dari Silaturahmi ke Peta Kekuasaan
Pertemuannya dengan Dasco tidak berhenti pada obrolan antar politisi.
Ada isu pemerintah, kesejahteraan rakyat, pengelolaan sumber daya alam, hingga rencana revisi Undang-Undang Pemilu.
Dalam pertemuan itu, Heikal menyampaikan dukungan Partai Ummat terhadap program Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Kami mendukung setiap program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama bagi masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan,” ujar Heikal kepada Bekasi-OL di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Pernyataan itu terdengar sederhana.
Namun dalam politik, dukungan tidak pernah berdiri di ruang hampa.
Partai Ummat bukan bagian dari partai besar yang menguasai parlemen. Ia juga bukan mesin politik lama yang memiliki jaringan kekuasaan berlapis hingga daerah.
Karena itu, sikap politik yang diambil harus memiliki garis yang jelas.
Mendukung program pemerintah yang berpihak kepada rakyat, tetapi tetap memiliki agenda politik sendiri.
Membangun komunikasi dengan partai besar, tetapi tidak kehilangan identitas.
Dan menjalin hubungan dengan kekuasaan, tanpa harus menghapus alasan mengapa partai itu didirikan.
Heikal tampaknya sedang mencoba memainkan ruang di antara semua kepentingan tersebut.
Kekayaan Alam dan Rakyat yang Menunggu Manfaat
Salah satu gagasan yang dibawa Heikal adalah pengelolaan sumber daya alam.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun persoalannya bukan sekadar berapa banyak sumber daya yang dimiliki, melainkan siapa yang paling banyak memperoleh manfaat dari kekayaan tersebut.
Partai Ummat, kata Heikal, ingin agar rakyat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kekayaan sumber daya alam Indonesia.
“Partai Ummat ingin agar rakyat Indonesia memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini,” ujarnya.
Baca juga: Bukan Kaleng-Kaleng, Heikal Hadir Menjadi Bagian Dari Strategi Regenerasi Sekaligus Mesin Baru Hadapi Pemilu 2029
Di titik ini, pernyataan Partai Ummat berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar.
Apakah kekayaan alam benar-benar menjadi sumber kesejahteraan rakyat?
Atau rakyat hanya menjadi penonton dari kekayaan yang digali dari tanah mereka?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan pidato.
Ia membutuhkan kebijakan, transparansi, tata kelola, dan keberanian politik.
Dan justru di sinilah partai politik diuji: apakah gagasan yang disampaikan sebelum pemilu akan tetap menjadi agenda setelah memperoleh kekuasaan?
Heikal ingin Partai Ummat hadir dengan gagasan tersebut.
Setidaknya, itulah arah yang sedang dibangun.
Pemilu 2024 dan Suara yang Berakhir sebagai Angka
Dari isu kesejahteraan, pembicaraan bergeser ke persoalan yang lebih dekat dengan kepentingan Partai Ummat: sistem pemilu.
Heikal dan Dasco membahas rencana revisi Undang-Undang Pemilu.
Partai Ummat berharap perubahan regulasi tidak hanya dirancang untuk melindungi kepentingan partai yang sudah memiliki kursi di parlemen.
Sebab, di luar gedung parlemen, terdapat partai-partai yang ikut bertarung, memperoleh suara, tetapi gagal mengubah suara itu menjadi representasi politik.
“Pengalaman Pemilu 2024 menjadi pelajaran bagi kita semua. Kami berharap regulasi yang baru dapat meminimalkan hilangnya representasi suara pemilih,” kata Heikal.
Kalimat itu adalah inti dari perjuangan Partai Ummat menuju 2029.
Pemilu memang mengenal pemenang dan pecundang.
Namun dalam demokrasi, suara pemilih tidak semestinya berhenti sebagai angka yang hilang dari peta representasi.
Bagi partai besar, persoalan itu mungkin tidak terlalu terasa.
Tetapi bagi partai pemula, suara yang tidak terkonversi menjadi kursi dapat berarti lenyapnya seluruh representasi politik.
Partai bisa memperoleh dukungan dari pemilih di berbagai daerah. Namun jika dukungan itu tidak terkonsentrasi pada wilayah yang tepat, suara tersebut dapat terfragmentasi.
Di tingkat nasional, suara itu ada.
Di tengah masyarakat, suara itu terdengar.
Tetapi di parlemen, suara itu tidak ada.
Di sinilah Partai Ummat ingin membuka kembali perdebatan.
Apakah sistem pemilu harus semata-mata mempertahankan keseimbangan partai-partai besar?
Ataukah demokrasi juga harus memberi ruang yang lebih adil bagi partai baru untuk tumbuh?
Pertanyaan ini bukan hanya kepentingan Partai Ummat.
Dia menyangkut masa depan partai-partai pemula.
Jika seluruh sistem politik hanya memberi keuntungan kepada partai yang sudah besar, maka demokrasi akan berubah menjadi ruang yang semakin sulit dimasuki.
Partai baru datang sebagai peserta.
Partai lama tetap menguasai panggung.
Sementara pemilih yang memilih alternatif hanya dapat menyaksikan suaranya berakhir di meja penghitungan.
Heikal Tidak Ingin Partai Ummat Sekadar Lolos Pemilu
Di sinilah totalitas Heikal Safar mulai terlihat. Ia tidak sedang mempersiapkan Partai Ummat hanya agar dapat kembali mengikuti Pemilu 2029.
Targetnya lebih jauh. Partai Ummat harus menjadi partai yang dipercaya. Dan kepercayaan itu tidak dapat dibangun melalui satu konferensi pers.
Ia harus dikerjakan melalui konsolidasi.
Melalui dialog.
Melalui pertemuan dengan tokoh-tokoh politik.
Melalui komunikasi dengan ulama dan akademisi.
Melalui penyusunan gagasan.
Bahkan, menurut Heikal, Partai Ummat juga berencana membuka komunikasi dengan sejumlah tokoh internasional untuk memperoleh perspektif mengenai perkembangan geopolitik global.
Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terlihat terlalu jauh untuk sebuah partai yang masih berjuang memperkuat eksistensinya di dalam negeri.
Namun justru di situlah pesan politiknya.
Partai Ummat tidak ingin hanya berbicara tentang cara memenangkan pemilu.
Partai itu ingin berbicara tentang apa yang akan dilakukan jika suatu hari memperoleh mandat dari rakyat.
“Dari berbagai dialog tersebut, kami ingin merumuskan konsep dan gagasan yang dapat menjadi kontribusi Partai Ummat bagi pembangunan Indonesia ke depan,” kata Heikal.
Amien Rais dan Warisan Gagasan yang Harus Diterjemahkan
Agenda politik Heikal juga tidak dapat dilepaskan dari posisi Amien Rais sebagai Ketua Majelis Syura Partai Ummat.
Dalam Milad dan Musyawarah Nasional Partai Ummat pada Mei 2026, Amien Rais disebut menyampaikan harapan agar pemerintah terus menjalankan program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pesan itu menjadi salah satu pijakan Partai Ummat.
Namun, tantangannya jelas.
Partai politik tidak hidup dari nama besar pendirinya.
Ia hidup dari kemampuan generasi berikutnya menerjemahkan gagasan menjadi kerja politik.
Di sinilah Heikal menghadapi pekerjaan yang tidak ringan.
Partai Ummat harus membuktikan bahwa dirinya bukan hanya kendaraan politik yang dibangun oleh tokoh-tokoh lama.
Ia harus menunjukkan bahwa partai tersebut memiliki masa depan.
Bahwa kader-kadernya mampu membaca perubahan.
Bahwa gagasannya mampu menjawab persoalan baru.
Dan bahwa partai tersebut dapat membangun hubungan dengan berbagai kelompok tanpa kehilangan prinsip.
Jalan Terjal Partai PemulaPemilu 2029 masih jauh.
Tetapi bagi Partai Ummat, waktu itu tidaklah panjang.
Ada pekerjaan rumah yang menunggu.
Konsolidasi organisasi.
Penguatan struktur.
Rekrutmen kader.
Penyusunan program.
Pembangunan jaringan.
Dan yang paling sulit: membangun kembali kepercayaan publik.
Pemilih Indonesia tidak mudah dipaksa untuk kembali memilih partai yang pernah mereka tinggalkan.
Mereka akan bertanya: apa yang berubah
Apa yang ditawarkan?
Mengapa harus Partai Ummat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jargon.
Ia harus dijawab dengan rekam jejak.
Dengan kerja politik.
Dengan keberanian mengoreksi diri.
Dan dengan gagasan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Heikal tampaknya memahami persoalan tersebut.
Karena itu, ia memilih melakukan safari politik sejak jauh-jauh hari.
Pertemuannya dengan Dasco bukan akhir
Justru sebaliknya, itu merupakan salah satu langkah awal.
Partai Ummat dan Pertarungan Melawan Status Quo
Di balik wacana revisi UU Pemilu, terdapat pertarungan yang lebih besar.
Pertarungan antara partai lama dan partai baru.
Antara mereka yang telah memiliki kursi dan mereka yang berusaha mendapatkannya.
Antara suara yang mudah dikonversi menjadi kekuasaan dan suara yang tercecer di antara aturan.
Partai Ummat tentu tidak sendirian dalam persoalan ini.
Ada partai-partai lain yang juga memiliki kepentingan serupa.
Mereka ingin agar demokrasi tidak hanya menjadi kompetisi bagi partai-partai yang telah mapan.
Namun, memperjuangkan perubahan regulasi bukan pekerjaan mudah.
Setiap perubahan sistem pemilu akan menyentuh kepentingan banyak pihak.
Partai besar akan menghitung dampaknya.
Partai menengah akan mencari peluang.
Partai kecil akan berharap mendapatkan ruang.
Sementara pembuat undang-undang harus menentukan formula yang dianggap paling sesuai dengan sistem demokrasi Indonesia.
Dalam pertarungan itulah Heikal ingin Partai Ummat hadir.
Bukan sebagai penonton.
Bukan sebagai penggembira.
Dan bukan sebagai partai yang hanya muncul ketika pemilu sudah dekat.
Dari Senayan ke 2029.
Pertemuan dengan Dasco di Senayan bisa saja dibaca sebagai satu agenda kecil di tengah hiruk-pikuk politik nasional.
Tetapi politik sering kali dimulai dari pertemuan-pertemuan kecil.
Dari percakapan yang tidak selalu menjadi berita utama.
Dari silaturahmi yang perlahan berubah menjadi komunikasi.
Dari gagasan yang awalnya hanya dibicarakan, kemudian dirumuskan menjadi agenda politik.
Heikal Safar tampaknya ingin mengambil jalur itu.
Ia ingin membawa Partai Ummat keluar dari bayang-bayang sebagai partai baru.
Ia ingin partainya hadir dalam perdebatan tentang masa depan demokrasi.
Ia ingin memperjuangkan agar suara pemilih tidak mudah hilang.
Dan ia ingin partai pemula memperoleh porsi yang lebih adil dalam kontestasi politik nasional.
Namun, pada akhirnya, semua itu akan kembali kepada satu pertanyaan:
Apakah Partai Ummat mampu mengubah safari politik menjadi kekuatan politik?
Apakah dialog dapat berubah menjadi gagasan?
Apakah gagasan dapat berubah menjadi program?
Dan apakah program dapat mengubah persepsi publik?
Jawabannya belum ada.
Pemilu 2029 masih berada di depan.
Tetapi satu hal sudah dimulai.
Heikal Safar tampaknya tidak ingin menunggu sampai masa kampanye untuk mencari perhatian publik..
Dia memilih berjalan lebih awal.
Menyusun jaringan.
Membuka pintu komunikasi.
Mendatangi tokoh-tokoh nasional.
Menggali pandangan ulama dan akademisi.
Bahkan mencari perspektif dari dunia internasional.
Semua itu untuk satu tujuan: menjadikan Partai Ummat sebagai partai yang tidak hanya sah mengikuti pemilu, tetapi juga layak dipercaya untuk memperoleh mandat rakyat.
Sebab bagi Heikal, perjuangan Partai Ummat menuju 2029 tampaknya bukan sekadar perjuangan untuk mendapatkan kursi.
Ini adalah perjuangan untuk membuktikan bahwa partai pemula pun berhak memiliki tempat yang signifikan dalam demokrasi Indonesia.
Dan kali ini, Partai Ummat tampaknya tidak ingin datang sebagai peserta tambahan.
Tags
bacaleg
Caleg
DPR RI
Gerindra
Heikal Safar
Ketua Amien Rais
Ketua Majelis Syuro
Partai Politik
Partai UMMAT
Sufmi Dasco
