contoh iklan header
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Apakah Atut Jadi takut Saat Nonton "Ratu Jadi Raja"

Foto Ratu Elizabeth II saat naik takhta. Ratu Elizabeth II menjadi raja Kerajaan Inggris menggantikan ayahnya, Raja George VI pada usia yang masih muda, 25 tahun, pada 6 Februari 1952. (Cecil Beaton (1904–1980) via WIKIMEDIA COMMONS)


JAKARTA, bksOL - Ketika gue membaca status akun mas @sudjiwotedjo yang akan membuka program tayangan ILC (Indonesia Lawyers Club) di tvOne tanggal 16 Oktober mendatang yang dipandu oleh @karni_ilyas dengan judul "Ratu Jadi Raja", maka gue pun langsung kebayang pasti ini ada kaitannya sama "dinasti kepemimpinan" dan partai politik di satu wilayah provinsi baru di dekat Jakarta.

Gak jauh, ILC bisanya bikin acara yang lagi-lagi mengais-ngais masalah di sekitar luka (kalo gak mau dibilang koreng)nya partai Golkar. Ini kalau bicara tentang "Ratu Jadi Raja" yang adanya di salah satu provinsi termuda dekat dengan Jabodetabek. Maaf gaya bahasanya masih lembut dan belum dibuat so over-exposure (bukan istilahnya Vicky Prasetyo loh).

Kenapa gue bilang ini korengnya Golkar? Karena jika yang dibicarakan itu adalah Gubernur Banten, Ratu Atut yang sedang kesandung masalah dengan pemanggilan dari KPK dan juga kasus adiknya "TB fulan bin fulan" yang jadi tersangka (bacanya disingkat: "disangka", hehehe) terlibat memberikan suap kepada ketua MK dalam kasus pilkada Banten beberapa waktu silam. Padahal Ratu Atut adalah salah satu Bendahara di DPP Golkar. Nah, paling nggak ini kan juga bisa "dikait-kaitkan" sama orang paling goblok (atau juga paling cerdas sekalipun) dengan kinerja partai Golkar.

Sedangkan Golkar sendiri kan pemimpinnya ya nggak lain gak bukan, ARB yang juga jadi pemilik penuh tvOne, yang buat program ILC jadi lebih populer justru daripada pencitraan partai Golkarnya sendiri, dan mungkin juga berpengaruh secara langsung dan tidak langsung kepada elektabilitas ARB sebagai capresnya, bukan?

Lalu bagaimana seorang Karni ilyas sebagai Redaktur Pelaksana atau pimpinan redaksi di media eks "Lativi" itu bertindak dan menjadi pemandu acara ILC? Apakah dia bisa dengan cerdas membelokkan setiap permasalahan yang ujungnya nanti para peserta diskusi akan mengarah kepada pencitraan negatif partai Golkar, atau bahkan bisa jadi preseden buruk buat ARB?

Disinilah kita bisa lihat dengan kepiawaian seorang wartawan senior sekelas Karni Ilyas bisa merubah sebuah black campaign (kampanye hitam) menjadi sebuah kampanye yang abu-abu tapi bergaya atraktif layaknya abg cantik "putih abu-abu". Atau malah bisa jadi bumerang buat Karni Ilyas, karena ini bukanlah kali pertama, Karni Ilyas bermain di area abu-abu atau area pinggiran koreng yang bisa bikin pirih yang punya bibir tvOne.

Tapi yang bikin tambah aneh lagi adalah metrotv, yang juga membuat tayangan tentang hal yang serupa, judulnya lumayan provokatif, "Dinasti Politik Pilkada", lah itu kan artinya pernyataan yang menohok partai tertentu yang kebetulan incumbent di beberapa daerah.

Kalau metrotv buat acara tayangan itu, mungkin gue bisa maklum, karena secara psikologis politik, sang pemilik stasiun tv, Surya Paloh, yang dulunya juga petinggi di partai Golkar, bermaksud mengangkat masalah yang sudah sering terjadi di partai berlambang phon beringin itu.

Sedangkan tvOne, tentu saja Karni Ilyas bagaikan berada di pertengahan tabrakan kereta api dengan truk tronton. Kalau saja dia tak pandai berkelit dan menghindar dengan cepat, maka tentunya akan remuk redam dirinya jadi peyek kepencet politik (lagi-lagi mau gunakan bahasa "cerdas"nya Vicky Prasetyo, tapi kok ya nggak bisa?).

Coba deh kelucuannya yang buat gue kok kadang kedengarannya bisa gak lucu, malah menyakitkan. Coba seandainya kita yang jadi keluarganya Ratu Atut, saat menonton program ILC, "Ratu Jadi Raja". Apa gak gondok dan sakit hati, ketika masalah dinasti politik diungkit-ungkit sementara hampir sebagian besar warga Banten adalah keluarga besarnya Ratu Atut. Jangan lupa, Banten itu dulunya pernah mempunyai kerajaan besar pada masanya. Jadi warisan budaya leluhur yang sebagian besar memang masih meyakini adanya aliran darah biru dalam pola kebermasyarakatannya (busyet sekali lagi gue pake istilah "njelimet" ini, gue langsung berubah jadi Vicky Pr... ya mendingan Vicky Shu aja).

Nah yang gue maksud dari pemikiran gue adalah "mempermasalahkan" kasus Atut dan mengemasnya menjadi konsumsi publik seperti biasanya dilakukan oleh media massa dalam beragam program. Gue pribadi gak ada hubungan khusus atau emosional dengan Ratu Atut sang Gubernur Banten meskipun gue pernah belajar dan masih belajar SIlat Tjimande yang banyak didapati di provinsi ini, ataupun gue bukan partisan partai Golkar, dan gue juga gak ada hubungan khusus dengan Aburizal Bakrie, meskipun gue punya nama Rizal yang sama dengan ARB.

Masalahnya apakah program sekelas ILC bisa mencerdaskan publik, dan meningkatkan kita ke level tertentu seperti mottonya MetroTV, "Knowledge to Elevate"? dengan program tayangannya "Dinasti Politik Pilkada" itu.

Tulisan ini sengaja gue buat, sebelum kedua program (entah "live" ataupun "taping") itu ditayangkan, dengan harapan pemirsa jadi semakin mengerti kemana arah dari program ini dibuat. Karena jika Karni Ilyas cerdas dan "sedikit lebih" berani pasti mampu mengkait-kaitkan semuanya dengan partai Golkar dan tentunya sang pemimpin ARB atau justru malah sebaliknya, Karni Ilyas harus SANGAT-SANGAT cerdas mencermati setiap arah diskusi jika sudah mulai menyerempet isyu politik partai sang bosnya, ARB. Sejujurnya, apakah pernah ada di antara audiens tvOne yang pernah menonton program ILC membahas tuntas masalah "Lumpur Lapindo" yang pernah ditayangkan dalam berita tvOne dengan penyebutan "Lumpur Sidoarjo".

Tapi tidak dengan metrotv, pastinya dia tak akan ragu meliput bahkan kalau perlu membongkar tuntas kasus "Lumpur Lapindo" jadi sebuah tayangan "lumpur yang melap Indonesia". Hehehe, gak lucu kan kedengarannya. Gue yakin metrotv bisa, kecuali, jika satu saat nanti Surya Paloh entah jadi presiden (meskipun peluangnya kecil sekali) atau jadi salah satu menteri di kabinet presiden terpilih 2014 nanti, mempunyai kasus seperti yang dialami ARB dengan Lumpur Sidoarjonya, bisa dipastikan metrotv akan meng"kover"nya segala cara demi pencitraan positif sang boss.

Yang apes tentunya adalah pemimpin partai yang gak punya media besar seperti partai-partai tertentu. Sebut saja presiden PKS, yang kini sedang jadi bulan-bulanan media massa baik lokal maupun internasional. Hanya sedikit sekali yang berpihak dan mempertahankan citra positif sang presiden dari partai kader da'wah itu, setidaknya media Islam yang pro. Demikian pula para capres masa depan dari partai Demokrat, dimana sang kandidat, Anas Urbaningrum sudah jauh-jauh hari dihantam langsung permasalahan isyu suap proyek Hambalang sebelum pencalegan di awal 2013. Untungnya sang dewan pembina yang masih menjabat jadi Presiden RI itu, bisa menyelamatkan muka partainya dengan cara "terpaksa" potong tangan agar pencitraan partainya baik di mata publik.

Meskipun ada selentinga  kabar "yang entah kebenarannya" tak bisa dipastikan bahwa kasus besar Hambalang melibatkan orang-orang sekelas Nazaruddin, Angie, Andi Mallarangeng dan terakhir AnasUrbaningrum. Namun kasus Ibas, mendadak hilang entah kemana berkasnya. Sekali lagi ini demi pencitraan. Karena tak mungkin citra pemimpin nasional seperti SBY, ternyata mempunyai anak seperti Ibas yang terlibat kasus dengan KPK yang telah menggeret tokoh-tokoh yang mengatakan "tidak" pada korupsi itu. Hmmm, njelimet banget ya? Tapi itulah faktanya politik kita, tak bisa bicarakan sekarang kecuali beberapa tahun ke depan, baru kita bisa.

Hmmm kayaknya gue jadi merasa bersyukur gak jadi wartawan TV yang serba "terpaksa" dan terbatas, saat banyak teman-teman bilang, "Lu kan cuma wartawan blogger Dik?" Lah?

Pesan yang mau gue sampaikan adalah, ternyata untuk membicarakan satu kebenaran itu tidak semudah membuat program talk-show, tanpa harus membuka sesuatu yang berkaitan dengan diri kita dan apa yang kita kerjakan secara gamblang. Mengerti kan kenapa saat nonton program seperti "Dinasti Politik Pilkada" dan "Ratu Jadi Raja" Anda akan setuju, jika saya bilang seperti menonton program talkshow "Takut Jadi Atut" yang punya multi tafsir. Bagaimana menurut Anda?

Sidik Rizal : pemerhati media televisi dan program tayangan kampanye politik @ http://kandidat-kandidat.com

Kandidat Calon Walikota Bekasi Heri Koswara

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
Kandidat Calon Walikota Bekasi, Heri Koswara