CT Scan “Check Out”, Warga “Check In” Masalah: RSUD CAM Bekasi Diuji Antara Rujukan, Waktu, dan Akal Sehat
Frits Saikat kritisi RSUD CAM, Selasa, 31/3/2026
Pelayanan kesehatan di RSUD Bekasi tengah diuji. Dua CT Scanner yang tak lagi berfungsi optimal membuat proses diagnosa melambat, sementara pasien harus berpindah ke fasilitas lain. Di balik istilah “rujukan”, tersimpan cerita warga yang harus menambah waktu, biaya, dan kesabaran demi satu hasil pemeriksaan.
— KOTA BEKASI | Di tengah jargon pelayanan kesehatan yang “semakin prima”, warga Kota Bekasi justru dihadapkan pada kenyataan yang agak... tidak prima-prima amat.Dua unit CT Scanner di RSUD CAM (Chasbullah Abdul Madjid) Kota Bekasi dilaporkan rusak—1 mati total sejak November 2025 di Gedung A, 1 lagi setengah napas sejak Januari 2026 di Gedung E.
Hasilnya? Warga yang butuh pemeriksaan cepat malah harus ikut “wisata medis” ke rumah sakit lain.
Aktivis senior Kota Bekasi, Frits Saikat, menyuarakan kritik keras. Tapi kalau didengar warga, ini bukan sekadar kritik—ini sudah masuk kategori “curhat berjamaah yang lama dipendam”.
“Yang di Gedung A sudah almarhum sejak November, yang di Gedung E ini statusnya antara hidup segan mati tak mau. Akhirnya pasien dirujuk ke RS swasta,” ujar Frits, Selasa (31/03).
Rujukan yang dimaksud bukan sekadar formalitas administrasi. Dalam praktiknya, pasien harus menunggu lebih lama, berpindah lokasi, dan tentu saja—menguras energi serta biaya tambahan. Bagi warga kecil, ini bukan soal pilihan layanan, tapi soal bertahan di antara antrean dan ketidakpastian.
Dari sudut pandang warga, masalahnya sederhana: kalau alat vital rumah sakit rusak berbulan-bulan, lalu siapa sebenarnya yang sedang “dirawat”?
Tenaga medis di RSUD pun ikut terdampak. Alih-alih fokus pada pasien, mereka kini harus bermain peran ganda: dokter, koordinator rujukan, sekaligus “admin dadakan” yang mengurus perpindahan pasien ke rumah sakit lain.
Efektivitas kerja menurun, bukan karena kurang kompeten, tapi karena sistemnya yang sedang tidak sehat.
Frits juga menyoroti sisi yang jarang dibahas dengan jujur: uang.
“Setiap pasien yang dialihkan ke RS swasta berarti potensi pendapatan RSUD hilang. Ini bukan cuma soal alat rusak, tapi soal kebocoran yang dibiarkan,” tegasnya.
Dalam bahasa warga: uangnya jalan-jalan ke luar, sementara fasilitas di dalam tetap jalan di tempat.
Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan yang dibiarkan terlalu lama berpotensi menjadi kerusakan permanen.
Dalam dunia alat medis, penundaan perbaikan itu ibarat menunda servis motor tapi tetap dipakai harian—ujungnya bukan servis ringan, tapi turun mesin.
Frits mengingatkan bahwa jika tidak segera ditangani, biaya perbaikan bisa membengkak atau bahkan berujung pada penggantian total yang jauh lebih mahal.
Di titik ini, warga Bekasi mungkin tidak butuh penjelasan teknis. Mereka hanya ingin satu hal yang sederhana tapi sering terasa mewah: layanan kesehatan yang benar-benar siap saat dibutuhkan.
“Perbaiki segera atau ganti sekalian. Jangan sampai warga terus jadi korban dari sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah,” tutup Frits.
Kini bola ada di tangan manajemen RSUD dan Pemerintah Kota Bekasi. Karena bagi warga, ini bukan sekadar soal alat CT Scan—ini soal waktu, keselamatan, dan kepercayaan. Dan di kota yang katanya terus berkembang, harapan warga juga sederhana: jangan sampai yang berkembang cuma masalahnya. [■]
Tags
aktivis
Aktivis Kesehatan
Dinas Kesehatan
Dinkes
Dinkes Kota Bekasi
Frits Saikat
Kota Bekasi
RSUD
RSUD CAM
