Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Meski Terlambat, Tapi Akhirnya Kepala BGN Dicopot Juga oleh Prabowo

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Pasca Banyaknya Kontroversi, Keracunan Makanan & Tunggakan MBG, Presiden Copot Kepala BGN Dadan Hindayana

kandidat-kandidat.com | Selasa, 2 Juni 2026, 11:12 WIBNMR/DR

Kenapa Kepala BGN Dadan Hindayana dicopot oleh Presiden Prabowo? Lalu Kenapa Prabowo ngambek dengan Kepala BGN Danda Hindayana? Berikut hasil penelusuran Kandidat2dotcom yang kritis tajam dan satire komedian beut!

 — JAKARTA | Di negeri yang sering lebih cepat mengganti wallpaper kantor daripada mengganti pejabat bermasalah, keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dari jabatannya, yang boleh dibilang sebagai kabar yang cukup mengejutkan sekaligus melegakan bagi banyak pihak.

Setidaknya, publik akhirnya melihat bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu proyek unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran bukanlah program yang kebal kritik dan kebal evaluasi.


Melalui pengumuman resmi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Negara, Dadan Hindayana resmi diberhentikan dan digantikan oleh Nanik S. Deyang setelah melalui evaluasi selama sekitar satu setengah tahun. Pergantian itu juga diikuti perombakan jajaran wakil kepala BGN.

Berikut adalah rincian perombakan
pimpinan Badan Gizi Nasional:
  • Dicopot: Dadan Hindayana (Kepala BGN)
  • Dicopot: Brigjen Polisi Sony Sonjaya (Wakil Kepala BGN)
  • Dicopot: Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung (Wakil Kepala BGN)
  • Diangkat: Nanik S Deyang (Sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN, kini dipromosikan menjadi Kepala BGN baru).

Penunjukan Nanik S Deyang diharapkan
mampu menjawab tantangan logistik dan
manajerial yang selama ini dinilai kurang
maksimal di bawah kepemimpinan
sebelumnya.

Kalau Cuma Satu Kasus, Mungkin Bisa Dibilang Apes

Masalahnya, yang menghantam citra BGN bukan cuma satu kejadian.

Dalam beberapa bulan terakhir, publik disuguhi sederet kabar yang membuat program MBG lebih sering masuk berita karena kontroversi ketimbang prestasi.

Mulai dari dugaan keracunan makanan di berbagai daerah, persoalan tata kelola distribusi, hingga keluhan keterlambatan pembayaran kepada sejumlah pelaksana dapur MBG di daerah.


Di Bekasi misalnya, muncul keluhan dari sejumlah pihak terkait dugaan tunggakan pembayaran kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membuat dapur berhenti beroperasi sementara.

Di sisi lain, aktivis mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil mulai melakukan pengawasan serta kritik terbuka terhadap pengelolaan program tersebut.

Bagi masyarakat kecil, persoalannya sederhana:
Anak sekolah butuh makan tepat waktu. Bukan penjelasan birokrasi yang datang tiga bulan kemudian.

Program Gizi Nasional Kok Malah Sering Masuk Berita Lambung Nasional?

Yang membuat kritik semakin keras adalah fakta bahwa kasus keracunan MBG bukan sekali dua kali muncul dalam pemberitaan.
Bahkan sebelumnya Dadan Hindayana pernah menyampaikan bahwa tingkat kasus keracunan relatif kecil dibanding total penerima manfaat, sambil menegaskan evaluasi terus dilakukan.

Namun bagi orang tua murid, statistik sering kali kalah penting dibanding satu pertanyaan sederhana:
"Kalau yang keracunan itu anak saya, apakah angka 0,5 persen masih terasa kecil?"

Di titik inilah publik mulai mempertanyakan kualitas pengawasan yang dilakukan BGN.

Karena bagi rakyat, keracunan massal bukan sekadar angka.
  • Itu ambulans.
  • Itu ruang IGD.
  • Itu orang tua yang panik.
  • Dan itu adalah kegagalan yang tidak bisa ditutupi dengan presentasi PowerPoint.

Istana Mungkin Sudah Lama Mendengar, Tapi Baru Sekarang Bertindak

Tentu tidak ada bukti bahwa berbagai kontroversi tersebut sengaja ditutup-tutupi oleh pihak tertentu.

Namun dalam dunia politik Indonesia, publik juga bukan anak kemarin sore.

Ketika kritik datang dari aktivis, media, orang tua murid, pengelola dapur, akademisi, hingga konten kreator yang hampir setiap hari membedah persoalan MBG, sulit membayangkan seluruh keluhan itu tidak pernah sampai ke telinga Istana.

Justru yang menjadi pertanyaan publik adalah:
Kenapa baru sekarang?

Karena jika evaluasi dilakukan selama satu setengah tahun sebagaimana disampaikan pemerintah, maka dapat diasumsikan bahwa berbagai catatan dan masalah memang telah masuk ke meja pengambilan keputusan sejak lama.

Dadan dan Kontroversi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Dadan Hindayana sendiri bukan sosok yang asing dalam perdebatan publik.

Sebagai Kepala BGN, setiap pernyataan dan kebijakannya selalu menjadi sorotan.

Sebagian pihak mengapresiasi upaya percepatan MBG yang dijalankannya. Bahkan sebelumnya Presiden Prabowo pernah memuji pengembalian anggaran yang tidak terserap sebagai bentuk tanggung jawab fiskal.

Namun di sisi lain, kritik terhadap tata kelola program terus bermunculan.

Di media sosial, nama Dadan hampir selalu menjadi sasaran meme, sindiran, kritik, hingga konten-konten satir yang mempertanyakan efektivitas program MBG.

Bagi netizen Indonesia, itu pertanda satu hal: Pejabat tersebut sudah masuk level "karakter tetap" dalam sinetron kritik publik.

Prabowo Sedang Mengirim Pesan Keras

Terlepas dari berbagai pro dan kontra, pencopotan Dadan bisa dibaca sebagai pesan politik yang cukup jelas dari Presiden Prabowo.

Pesan itu kira-kira berbunyi:
"Program boleh unggulan, tapi kalau pelaksanaannya bermasalah, kepala lembaganya tetap bisa diganti."

Dalam tradisi politik Indonesia, pesan semacam ini tidak selalu sering muncul.

Karena tak sedikit program besar yang tetap berjalan meski kritik menggunung.

Namun kali ini Prabowo tampaknya memilih langkah berbeda dengan melakukan pergantian pimpinan BGN secara langsung.

Indonesia Emas 2045 Tidak Bisa Dibangun dengan Alasan

Pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli siapa yang duduk di kursi Kepala BGN.

Rakyat peduli apakah anak-anak mereka mendapat makanan yang aman.
Rakyat peduli apakah uang negara benar-benar sampai ke piring siswa.
Rakyat peduli apakah dapur MBG tetap menyala atau malah mati karena tunggakan.
Dan rakyat peduli apakah program raksasa bernilai triliunan rupiah itu benar-benar mampu mencetak generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Karena generasi emas tidak lahir dari konferensi pers.

Generasi emas lahir dari makanan yang benar-benar sampai ke meja makan.

Maka pencopotan Dadan Hindayana mungkin terlambat menurut sebagian orang.


Tetapi setidaknya, keputusan itu menunjukkan satu hal:

Presiden Prabowo tampaknya mulai sadar bahwa mempertahankan kepercayaan publik jauh lebih penting daripada mempertahankan jabatan seorang pejabat.

Dan dalam politik, kadang-kadang, itu adalah menu paling bergizi yang bisa disajikan kepada rakyat. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama