Viral! Berangkat Modal Rp70 Ribu, Kini Bedah Buku di UI: Kisah Ja’far Bikin Kagum, Tapi Biofar SS Bikin Publik Penasaran
Buku 400 halaman dengan 200 lebih referensi ilmiah itu menuai pujian. Namun, di balik kisah anak desa yang mendunia, masih ada sederet pertanyaan ilmiah yang menarik untuk dibedah.
— JAKARTA | Kisah anak desa yang merantau dengan modal Rp70 Ribu, berjualan roti untuk membiayai pendidikan, lalu mengembangkan inovasi kesehatan dan menulis buku lebih dari 400 halaman terdengar seperti narasi keberhasilan yang nyaris sempurna.Kisah itu kini dikemas dalam buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia, karya Muhammad Ja’far Hasibuan. Buku tersebut diluncurkan dan dibedah dalam sebuah seminar dan talkshow di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu lalu (8/8/2026).
Acara itu disebut berskala internasional. Sekitar 500 peserta diklaim hadir secara luring dan 1.500 lainnya mengikuti secara daring. Sejumlah lembaga negara dan institusi pendidikan juga disebut memberikan dukungan.
Namun, di balik deretan angka, gelar, dukungan institusi, dan pujian yang mengiringi peluncuran buku itu, terdapat pertanyaan yang justru menarik untuk diperiksa: sejauh mana kisah personal tersebut telah dibuktikan sebagai karya ilmiah, dan bagaimana posisi inovasi Biofar SS di tengah standar penelitian kesehatan yang ketat?
Pertanyaan itu penting karena buku ini tidak sekadar dipromosikan sebagai memoar perjuangan. Penulis menyebutnya sebagai karya yang ditopang lebih dari 200 referensi ilmiah dan menggunakan berbagai teori kesehatan masyarakat, psikologi, pengembangan manusia, manajemen, serta inovasi.
Narasi perjuangan bertemu klaim ilmiah
Kepada awak media, Senin (10/8/2026), Ja’far mengatakan buku tersebut merekam perjalanan hidupnya sejak berasal dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.
Ia mengaku berangkat merantau hanya dengan Rp70 ribu. Untuk bertahan sekaligus membiayai pendidikan, ia berjualan roti sambil kuliah.
Menurut Ja’far, keterbatasan ekonomi dan akses terhadap informasi justru mendorongnya melakukan riset lapangan, pengujian laboratorium, serta uji coba di masyarakat. Dari proses itulah kemudian lahir Biofar SS, inovasi yang formulanya hingga kini disebut masih dirahasiakan.
Di titik ini, kisah tersebut bergerak dari wilayah autobiografi menuju klaim ilmiah.
Sebab, dalam penelitian kesehatan, pengalaman empiris seseorang bukan dengan sendirinya menjadi bukti efektivitas sebuah produk. Ada persoalan metodologi, validitas data, keamanan, reproduksibilitas, hingga pembuktian manfaat yang perlu dipisahkan dari kisah keberhasilan personal.
Ja’far mengatakan kompetensi yang diperolehnya selama pendidikan diarahkan untuk menghasilkan karya terapan yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, terutama kelompok dengan keterbatasan pelayanan kesehatan.
Tetapi publik tentu membutuhkan informasi yang lebih rinci mengenai apa sebenarnya Biofar SS, bagaimana mekanisme kerjanya, apa hasil pengujiannya, serta sejauh mana inovasi itu telah melewati tahapan pengujian yang dipersyaratkan.
Formula produk, menurut Ja’far, memang dirahasiakan. Akan tetapi, kerahasiaan formula tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap bukti ilmiah mengenai keamanan dan efektivitasnya.
Buku tebal dan teori yang berlapisBuku tersebut diklaim memiliki lebih dari 400 halaman dengan lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin.
Ja’far menyebut kerangka teorinya antara lain menggunakan Teori Modal Sosial dan Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, Teori Keadilan Kesehatan, dan Determinan Sosial Kesehatan.
Pada tingkat teori menengah, ia memasukkan Psikologi Perkembangan, Teori Sistem Ekologi, Post-Traumatic Growth, resiliensi, Growth Mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Sementara untuk menjelaskan pengembangan inovasi, buku itu menggunakan Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure.
Susunan teori tersebut membuat buku itu tampil bukan semata sebagai kisah inspiratif. Penulis berusaha menempatkan perjalanan hidupnya sebagai objek yang dapat dibaca melalui berbagai kerangka akademik.
Namun, banyaknya teori dan referensi juga menimbulkan pertanyaan lain: apakah seluruh teori tersebut digunakan sebagai perangkat analisis yang konsisten, atau sebagian hanya menjadi lapisan konseptual untuk memperkuat narasi auto biografis
Jawabannya tentu membutuhkan pembacaan terhadap buku secara utuh dan penilaian akademik independen.
Panggung institusi dan legitimasi
Peluncuran buku tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan lembaga.
Acara disebut dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak. Sambutan Kapolri disebut dibacakan Irjen Pol Andry Wibowo.
Ja’far sendiri merupakan penerima Beasiswa Kapolri. Ia menyebut kepercayaan tersebut sebagai amanah untuk mengembangkan penelitian dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dukungan institusional kemudian menjadi bagian penting dari narasi peluncuran buku.
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., disebut menilai buku tersebut memiliki nilai akademik tinggi karena menghubungkan pengalaman hidup dengan teori mutakhir di bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.
Menurut keterangan yang disampaikan Ja’far, karya itu bahkan telah menjadi bahan diskusi di kalangan profesor dan membuka peluang baginya untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Harvard University.
Pernyataan mengenai peluang studi tersebut perlu dibedakan dari informasi tentang penerimaan resmi. Peluang akademik, rekomendasi, diskusi profesor, dan keputusan penerimaan universitas adalah hal yang berbeda.
Begitu pula dengan penyebutan dukungan sejumlah lembaga. Dukungan terhadap sebuah kegiatan tidak otomatis berarti lembaga tersebut memberikan pengesahan ilmiah terhadap seluruh isi buku atau klaim inovasi yang dibahas di dalamnya.
Di sinilah batas antara dukungan acara, apresiasi personal, dan validasi ilmiah menjadi penting untuk dijelaskan kepada publik.
Dari kemiskinan menjadi modal sosial
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, membaca perjalanan Ja’far melalui perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.
Kehilangan ayah, kemiskinan, pengalaman merantau, serta berjualan roti dipandang bukan hanya sebagai rangkaian kesulitan, melainkan sebagai proses pembentukan karakter.
Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., juga disebut memberikan apresiasi terhadap karya tersebut sebagai kebanggaan keluarga, almamater, dan bangsa.
Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, melalui perwakilan yang disebut Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., juga diklaim menetapkan Ja’far sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Sementara Perpustakaan Nasional RI disebut menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Jika seluruh klaim tersebut benar dan dapat ditelusuri dokumennya, rangkaian pengakuan itu menunjukkan bahwa buku tersebut memperoleh perhatian dari berbagai institusi.
Tetapi kembali muncul persoalan yang sama: pengakuan administratif atau apresiasi institusional tidak identik dengan pembuktian ilmiah terhadap sebuah inovasi kesehatan.
Yang belum selesai dijawab
Justru karena buku ini membawa nama kesehatan masyarakat dan inovasi, sejumlah pertanyaan layak ditempatkan di depan, bukan disembunyikan di belakang narasi keberhasilan.
Apa sebenarnya Biofar SS?
Apa hasil pengujian laboratoriumnya?
Di laboratorium mana pengujian dilakukan?
Apakah hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang melalui proses peer review?
Apakah terdapat penelitian independen yang menguji klaim mengenai inovasi tersebut?
Bagaimana aspek keamanan, efektivitas, dosis, kontraindikasi, dan penerapannya pada manusia dibuktikan?
Dan jika inovasi itu memang ditujukan untuk masyarakat luas, bagaimana status regulasi serta mekanisme pengawasannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan upaya meredam sebuah kisah inspiratif. Sebaliknya, justru diperlukan agar kisah perjuangan tidak bercampur dengan klaim ilmiah tanpa batas yang jelas.
Antara kisah inspiratif dan pembuktian
Ja’far mengatakan dirinya bersyukur atas Beasiswa Kapolri dan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara.
Ia menyatakan ilmu yang diperoleh tidak ingin berhenti sebagai pencapaian pribadi.
Pengetahuan itu, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Gagasan tersebut terdengar sederhana, tetapi tantangan sesungguhnya berada setelah buku diluncurkan.
Karya akademik pada akhirnya tidak hanya diuji oleh tepuk tangan dalam sebuah forum. Ia diuji oleh data, metode, kritik sejawat, replikasi, transparansi, dan waktu.
Begitu pula sebuah inovasi kesehatan.
Kisah seorang anak desa yang memulai perjalanan dengan Rp70 ribu memang layak diceritakan.
Tetapi jika kisah itu hendak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah inovasi kesehatan Indonesia, standar pembuktiannya harus lebih tinggi daripada sekadar kisah sukses.
Di situlah buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai cerita perjuangan seorang pemuda, melainkan sebagai sebuah klaim yang masih perlu terus diuji.
Sebab dalam ilmu pengetahuan, yang paling berharga bukanlah seberapa keras sebuah klaim dipuji, melainkan seberapa kuat ia bertahan ketika dipertanyakan. [■]
Tags
Aksi Mahasiswa
Bedah Buku
Fakultas Kesmas
FKM UI
Kesehatan Masyarakat
Mahasiswa
Seminar
Universitas Indonesia


