contoh iklan header
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Kasus Gayus adalah Puncak Gunung Es "Pasar Suap"

FILM TERBARU: SUPREMASI HUKUM KALAH DENGAN INCREDIBLE GAYUS





Salah satu kandidat orang terpopuler se Indonesia versi gue
Nama Gayus H. Tambunan melesak ke seantero Indonesia yang dikenal sejumlah besar publik Indonesia, bahkan namanya menjadi aikon baru nasional (kayaknya Indonesian Idol atau Indonesia Mencari Bakat harus memasukkan namanya sebagai salah satu kandidat).



Orang kini dengan mudahnya mengasosiasikan Gayus dengan jalan pintas kemaruk (cara rakus) menuju kaya raya, yang bisa dibuktikan dengan pengakuannya bahwa menjadi miskin adalah hal yang paling ditakutinya.






Gayus memang sudah bekerja dari bayi
Gayus memang pantas dengan perumpamaan itu karena usianya yang masih muda (dia kelahiran 1979), namun dia berhasil mengumpulkan sedikitnya Rp 100 milyard (setara dengan 11,2 juta dolar) hanya dalam waktu dua tahun setelah bekerja sebagai pegawai pajak. Dengan gaji per bulannya 2,4 juta rupiah dan tunjangan prestasi 8 juta per bulan dan lainnya atau gaji kotor 12,5 juta rupiah per bulannya sebagai pegawai negeri sipilnya, dia seharusnya bekerja selama 688 tahun untuk mendapatkan uang sebesar yang kini dia miliki.


Akan tetapi pegawai pajak "ngetop" ini tak berhenti membuat berita besar. Di samping pengadilan kasus besarnya, Gayus dilaporkan menyuap pejabat dan penjaga tahanan sehingga dia bisa berliburan ke Bali bersama keluarganya. Tak heran kalau beberapa orang menyebutnya sebagai the Incredible Gayus (gue jadi film the Incredible Hulk deh, hehehehe!!!!)





"Kuberi kau satu permintaan...!" TUING!
Rangkaian kejadian ini menunjukkan keahlian tingkat tinggi Gayus dalam membuat kesepakatan dengan petugas, dan dengan bantuan dari kekuatan "raksasa hijau"-nya (baca "duit" atau "fulus" alias "uang"... hiperbolis gak seh?), Gayus bisa mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginannya.
Masih ingat dengan iklan komersial rokok Djarum 76? Gayus bilang, "Aku mau ke Bali!" dan "tuing!" Gayus sudah di Bali. Tapi waktu dia minta berubah wajahnya supaya nggak ketahuan orang banyak, dia cuma bilang, "Aku minta supaya wajahku berubah kayak Afghan,"... sang "jin-hijau" (baca : sekali lagi baca "uang") cuma ketawa ngakak.... sambil bilang "Mimpi....!"



Sayangnya orang seperti Gayus, tidak sendirian
Sayangnya orang seperti Gayus, tidak sendirian. Ada ratusan bahkan ribuan kasus serupa di luar sana yang berlalu tanpa terlihat, mulai dari penyuapan di pelabuhan laut, kantor imigrasi hingga di jalan raya. Untuk menyebutkan contoh kecil yang paling populer, kita bisa melihat dengan mudah sejumlah besar pelaku penyuapan yang menafikan keadilan saat melanggar rambu lalu lintas.


Seperti halnya Gayus, pada mulanya orang-orang agak bingung bagaimana membuat kesepakatan dengan polisi, tapi setelah beberapa waktu berjalan, melalui banyak pengalaman, orang-orang mulai mengerti bagaimana sistem bekerja.


Mereka belajar tentang celah bolong dan sedikit demi sedikit memanipulasi sistem untuk tujuan mereka. Sistem semakin jauh dirusak karena penegak hukum sendiri (polisi lalu lintas) memang korup. Para penegak hukum ini bergaji rendah, sehingga mengambil uang tilang dari para pelanggar lalu lintas adalah hal termudah dan tercepat untuk mencari tambahan pendapatan demi memenuhi kebutuhan mereka.





orang-orang membutuhkan peraturan hukum yang bisa dilanggar
Contoh-contoh ini hanya menunjukkan kepada kita bahwa penyuapan terjadi karena ada pasar untuk hal tersebut. Seperti halnya pasar di dunia ekonomi, ada pembeli dan ada penjual di dalam "pasar penyuapan". Penegak hukum bertindak sebagai penjual (dengan hukum dan kekuasaan sebagai barang dagangan mereka), sementara orang-orang sebagai pembelinya.


Pada kasus tilang lalu lintas, orang-orang membutuhkan peraturan hukum yang bisa dilanggar hanya dengan membayar sejumlah uang, sementara di lain pihak, penegak hukum membutuhkan uang tambahan untuk kebutuhan mereka.


Saat kedua kebutuhan pas bertemu, maka transaksi penyuapan berlangsung (beda banget kan dengan seorang ibu yang menyuapi bayinya? hehehe).


Seperti halnya dunia perekonomian, "pasar penyuapan" juga diatur oleh hukum persediaan dan permintaan.



Saat persediaan lebih besar dan permintaan turun, maka harga yang harus dibayarkan orang menjadi turun. D dalam kasus tilang lalu lintas, para penerima tilang tak akan menawarkan suap kepada polisi lebih dari jumlah sanksi penalti di pengadilan, jadi permintaan untuk suap yang lebih mahal jarang terjadi.





Karena dia adalah orang yang sangat tertekan
Orang lebih suka pergi ke pengadilan dan membayar denda jika polisi meminta uang suap terlalu besar. Seiring dengan berjalannya waktu dan belajar dari situasi yang biasa terjadi, polisi tidak akan meminta uang lebih besar dari para pelanggar lalu lintas, kalau tidak mereka tidak akan menerima uang sama sekali.


Sementara itu dalam kasus Gayus, permintaan untuk pembebasan sementara dari tahanan adalah sangat tinggi, karena dia adalah orang yang sangat tertekan yang ingin menghabisan waktunya bersama keluarga. sementara di lain pihak persediaan sangat kecil (peluangnya) karena keputusan ada di tangan-tangan para pimpinan penjara.





hukum bisa dibengkokkan jika harganya pas
Walhasil, Gayus harus membayar mahal, Rp 370 juta, kepada pimpinan penjara dan anak buahnya untuk keleluasaan sejenak untuk meninggalkan penjara.



Transaksi di penjara, jalanan dan banyak tempat lainnya di republik kita yang korup ini memang membuat perih hati. Hukum menjadi komoditas dan kehilangan efek jeranya. Hukum tak lagi dihormati karena orang tahu bahwa hukum bisa dibengkokkan jika harganya pas. Dan juga kehilangan makna "kapok untuk berbuat lagi" (raison d 'etre) demi mencegah orang melakukan kejahatan.


Hukum secara gamblang ditelanjangi, sebagai ganti bahwa negara ini diatur oleh hukum, kehidupan orang saat ini diatur oleh kekuatan uang. Karena uang bisa membeli kebenaran, yang pada akhir harinya mereka yang memiliki uang bisa menang, sementara mereka yang tak punya akan musnah.






homo homini lupus
Kasus penyuapan yang tampak ke permukaan ini menunjukkan kekuatan uang di jaman kita, khususnya dalam penanganan kasus Gayus, yang ironisnya tak ada bedanya dengan abad 17, ketika seorang filosof Thomas Hobbes menggambarkan "a homo homini lupus", atau seorang manusia menjadi serigala bagi sesamanya.


Gayus telah mengingatkan kita bahwa usaha untuk menegakkan keadilan di negara ini belum sesuai dengan harapan rakyat kita, justru kembali kepada ujung dari ketiadaan hukum.


Disarikan dari beberapa Sumber dan tulisan: A'an Suryana, The author is a staff writer at The Jakarta Post dan beberapa sumber
Kandidat Calon Walikota Bekasi Heri Koswara

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
Kandidat Calon Walikota Bekasi, Heri Koswara