Aceh Masih Gelap, Jakarta Masih Serius Baper, Pemerintah vs Mahasiswa Lawan Krisis Bencana, BEM PTNU Teriak!
Flood aftermath: A man takes pictures on Dec. 13 as he stands on piles of uprooted trees swept away by a flash flood at Darul Mukhlisin Islamic boarding school in Aceh Tamiang, Aceh. Devastating floods and landslides have killed 1,006 people in Indonesia, rescuers said on Dec. 13 as the nation grapples with the huge scale of relief efforts. (AFP/Yasuyoshi Chiba)
Banjir dan longsor di Aceh Utara terjadi sejak akhir November 2025. Namun hingga Januari 2026, sebagian warga di tiga dusun Desa Leubok Pusaka masih hidup dalam gelap, kekurangan fasilitas dasar, dan menunggu bantuan yang belum sebanding dengan kebutuhan. Di saat negara terkesan berjalan pelan, BEM PTNU se-Nusantara justru tampil paling depan menyerukan aksi kemanusiaan.
— ACEH UTARA | Sambil menghitung durasi listrik yang belum menyala di tiga dusun Desa Leubok Pusaka, warga di sana bisa menuliskan novel trilogi.Karena, sejak bencana banjir dan longsor akhir November 2025, mereka lebih sering mengenal kegelapan malam ketimbang listrik PLN yang di sini nggak nongol-nongol.
Residents scavenge remains of their homes after flash floods in East Aceh District, Aceh Province, Dec. 22, 2025. Local authorities said the disaster damaged at least 18,308 houses. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Ya, bukan berita hoaks bila sejumlah anak muda, mahasiswa lewat Badan Eksekutif Mahasiswa PTNU se-Nusantara telah mewakili suara rakyat: “Kami bukan minta kemewahan — tapi hak dasar kehidupan,” ujar Wakil Presidium Nasional mereka, Rama Fiqri Rahman Amin, saat menengok warga yang bercahaya dari lilin seperti festival tontonan vintage.
Itu karena penerangan normal di tiga dusun masih belum pulih, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari tetap jadi prioritas harapan, bukan prioritas pemerintah pusat yang jauh dari sana.
Respon Pemerintah: Lambat Tapi Penuh Kata Bijak
Kalau kamu pikir pemerintah pusat cuek, sebenarnya mereka sudah melakukan sesuatu — meski lebih banyak berupa kata ketimbang listrik atau makanan di tangan warga Aceh:
BNPB kini menggandeng 220 mahasiswa untuk memverifikasi rumah rusak — sebuah bentuk kolaborasi tak terduga antara pemerintah dan generasi yang biasanya dicap “hanya bisa demo”.
Verifikasi ini menjadi dasar pemberian bantuan rumah Rp15 juta-Rp60 juta per keluarga. Setidaknya itu yang diberitakan oleh AntaraNews.
Pemerintah pusat juga menargetkan pembangunan hunian sementara akan selesai pada Februari 2026, dengan 100 ton logistik dikirim setiap hari dari Halim Perdanakusuma Jakarta, juga itu yang dilansir dari AntaraNews.
Akses jalan yang terputus sebagian sedang bertahap dibuka lewat pembangunan jembatan, jalan nasional direstorasi, dan alat berat Polri dikerahkan — tapi ya begitulah: alur bertahapnya membuat warga masih sering jalan kaki sembari berharap Internet bisa streaming lagu Arena of Valor. Nah ini berita dilansir dari IndonesianNationalPolice.
President Prabowo Subianto greets residents during a visit to an evacuation shelter in Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, on Friday (12/12/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz
Bahkan pemerintah membuka pintu bagi bantuan internasional non-pemerintah supaya bisa masuk — seraya mengingatkan semua pihak agar mengikuti prosedur administrasi. Lagi-lagi ini dilansir dari INP | Indonesian National Police.
Faktanya di Lapangan Warga Masih Nunggu Kehadiran “Negara”
Di Aceh, fakta bicara: meski status tanggap darurat sudah diperpanjang berkali-kali hingga awal Januari 2026, ribuan warga masih terisolasi tanpa listrik normal, internet limbung, dan fasilitas publik yang rusak, seperti artikel dari Aceh Provinsi.
Bencana ini bukan skenario mini — setidaknya 817 ribu orang Aceh masih mengungsi, rumah rusak puluhan ribu unit, akses jalan putus, dan nyaris satu juta orang masih bergulat untuk pulih dari banjir terbesar tahun ini di Sumatra, dilansir dari
Dan dari sudut pandang warga di tiga dusun itu? Mereka bukan ingin foto selfie bantuan, bukan ingin pidato besar, tapi teguran keras terhadap lambatnya pengarahan pemerintah pusat dan distribusi bantuan yang seharusnya lebih cepat sejak November lalu.
Bagaimana tidak? Banjir ini bahkan sudah menggugah sorotan internasional — orang Aceh di luar negeri sampai menyumbangkan 500 ton bantuan dari Malaysia, tetapi terhambat prosedur yang belum dibuka oleh pemerintah pusat karena Indonesia belum menetapkan status darurat nasional, demikian diberitakan oleh TheJakartaPost.
Siapkan Panggung, Fakta Tetap Berkicau
Sementara BEM PTNU menyalakan lilin solidaritas di Aceh dan menggalang aksi kemanusiaan dari seluruh Nusantara, pemerintahan pusat seperti sedang menunggu data verifikasi rumah rusak tercepat di dunia dari mahasiswa yang Tuhan tahu sedang kelelahan karena magang di dua tempat sekaligus — kampus dan lapangan bencana.
Kalau dulu kita sering bercanda soal “pemerintah lagi rapat”, sekarang warga Aceh bisa lebih realistis: pemerintahnya sudah rapat dan rapat, tapi bantuan masih antre di bincang meja konferensi jauh di Jakarta.
Kesimpulan: Kritik yang Disampaikan
- 🟥 Pemerintah pusat lambat nyata dalam memberi bantuan dasar yang riil kepada warga terdampak sejak November 2025.
- 🟧 Upaya kini lebih banyak administrasi dan prosedur daripada distribusi cepat di lapangan.
- 🟨 BEM PTNU hadir lebih cepat sebagai suara kemanusiaan konkret, memantik respons moral publik lebih dulu dibanding ratusan hari rapat pemerintah. [■]




Posting Komentar
Silakan beri komentar yang baik dan sopan