Dari Forum Dialog Sampai “Diplomasi Warkop”, Kerja Senyap FKUB Sejak 2025 Berbuah Manis buat Kota Bekasi
Siapa sangka, di balik suasana Kota Bekasi yang makin rukun dan minim gesekan, ada “tim senyap” yang kerja tanpa banyak sorotan. FKUB Kota Bekasi tancap gas sejak 2025, merawat toleransi dari level bawah hingga kebijakan, dan hasilnya kini terasa langsung oleh warga—lingkungan lebih tenang, interaksi makin cair, dan Bekasi pun naik kelas ke peringkat 5 nasional Indeks Kota Toleran 2025.
— KOTA BEKASI | Di tengah dinamika kota penyangga ibu kota yang kian kompleks, warga Kota Bekasi patut mencatat satu capaian penting: naiknya posisi Kota Bekasi ke peringkat ke-5 nasional dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.Bekasi Menguat dalam Toleransi: Dari Kolaborasi Warga hingga Dampak Nyata di Ruang Hidup Sehari-hari, FKUB Bekerja keras mewujudkannya dengan program sepanjang tahun sejak awal 2025 lalu.
Sebuah lompatan dari peringkat ke-7 tahun sebelumnya, dengan skor 6,037, yang tidak sekadar angka—melainkan cerminan kualitas kehidupan sosial yang semakin matang dan inklusif.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam seremoni nasional yang berlangsung di Mangkuluhur ARTotel Hotel, Jakarta, dan dihadiri langsung oleh Walikota Bekasi, Tri Adhianto.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam seremoni nasional yang berlangsung di Mangkuluhur ARTotel Hotel, Jakarta, dan dihadiri langsung oleh Walikota Bekasi, Tri Adhianto.
Namun lebih dari seremoni, capaian ini sejatinya adalah cerita tentang kerja kolektif warga kota: dari tokoh agama, komunitas, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang konsisten merawat ruang dialog dan kebersamaan.
Bagi warga, toleransi bukan lagi sekadar jargon administratif. Ia hadir dalam bentuk yang nyata: lingkungan yang lebih kondusif, interaksi sosial yang hangat lintas keyakinan, hingga minimnya gesekan horizontal yang selama ini kerap menjadi kekhawatiran di kota-kota besar.
Peran FKUB Kota Bekasi menjadi salah satu pilar penting dalam capaian ini.
Melalui pendekatan dialogis, mediasi, serta edukasi lintas agama yang berkelanjutan, FKUB berhasil menjaga ritme harmoni di tengah keberagaman.
Upaya ini tidak selalu terlihat di permukaan, namun terasa kuat dalam denyut kehidupan masyarakat—dari lingkungan RT/RW hingga ruang publik kota.
Walikota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat.
“Toleransi bukan sekadar slogan. Ia harus hidup dalam keseharian warga—dalam cara kita bertetangga, berinteraksi, dan saling menghargai,” ujarnya.
Lebih jauh, Tri menekankan bahwa capaian ini bukan garis akhir. Justru, ini menjadi pengingat bahwa menjaga harmoni membutuhkan konsistensi dan kesadaran kolektif yang terus dirawat.
Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan posisi, tetapi memastikan nilai toleransi benar-benar mengakar sebagai budaya kota.
Dari sudut pandang warga, peningkatan indeks ini membawa harapan baru: Bekasi yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga matang secara sosial.
Dengan pijakan ini, Kota Bekasi perlahan menegaskan diri sebagai ruang hidup yang tidak hanya layak huni, tetapi juga layak dirasakan—oleh siapa pun, dari latar belakang apa pun.
Sebelumnya di tempat terpisah Ketua FKUB, H. Abdul Manan purnawirawan TNI ini meminta bantuan peran media online, dalam satu acara Buka Puasa bersama terakhir akhir Maret 2026 di Restoran Wulansari, Margajaya, Kota Bekasi untuk mengangkat segala pemberitaan positif tentang karakter mendasar warga Kota Bekasi yang penuh toleransi dan hidup rukun damai antar sesama.
"Bantu kami dari FKUB ini agar kita sebagai warga Kota Bekasi masih tetap dan terus berjuang menjaga kerukunan antar umat beragama. Itu sebabnya media Abang kami undang di acara ini, dan silakan bertanya langsung kepada perwakilan masing-masing agama yang ada di acara kali ini." ungkap Abdul Manan kepada BekasiOL & JabarOL.
Dalam acara buka puasa bersama akhir Ramadhan 1447H / 2026M lalu itu dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing agama yang ada di Kota Bekasi. Mulai dari tokoh Nahdhatul Ulama, tokoh Muhammadiyah, tokoh Persis, tokoh Kristen Protestan, tokoh Katholik, tokoh Hindu, tokoh Budha hingga tokoh Konghuchu.
Semuanya secara akrab mengikuti acara buka puasa bersama dan membahas beberapa isyu terkini antar umat serta memberi kesempatan kepada media untuk bertanya tentang banyak hal, apa saja yang telah dan sedang dikerjakan oleh FKUB demi menjaga soliditas, keutuhan, persatuan dan kerukunan antar umat beragama di Kota Bekasi. [■]
Tags
Agama
Daerah
FKUB
Indeks Toleransi
Kerukunan Antar Umat Beragama
Kota Bekasi
Moderasi Agama
Pemkot Bekasi
Toleransi
Toleransi & Moderasi




