Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Dari Pabrik ke Ruang Kampus: Jalan Sunyi Seorang Pejuang Pendidikan Masa Depan

iklan banner AlQuran 30 Juz

Menjadi Dosen Bukanlah Cita-Cita Awal Bagi Sulistianto SW, Namun Siapa Sangka Kini Profesinya Jadi Seorang Pendidik

kandidat-kandidat.com| Rabu, 15 April 2026, 09:00 WIB| Nilam / DR

 — KOTA BEKASI | Tidak semua pendidik memulai langkahnya dari mimpi masa kecil.

Bagi Sulistianto SW, dunia pendidikan justru hadir sebagai “jalan sunyi” yang perlahan memanggilnya untuk mengabdi.

Dari pengalaman pahit kehilangan pekerjaan hingga menjadi dosen yang telah mengajar hampir dua dekade, kisahnya adalah potret ketekunan sekaligus komitmen pada masa depan anak bangsa.

Sejak bergabung sebagai dosen di BSI pada 2021, Sulistianto dikenal sebagai pengajar yang adaptif dan lintas disiplin.

Ia tak hanya mengampu mata kuliah manajemen dan perpajakan, tetapi juga menjelajah bidang teknologi hingga teknik industri.

Baginya, batas keilmuan bukan penghalang, melainkan tantangan untuk terus belajar.

Saya tidak pernah melamar untuk mengajar. Justru sering diminta,” ujarnya ringan, seolah merangkum takdir yang datang tanpa banyak rencana.

Namun perjalanan itu tidak lahir dari ruang nyaman. Sebelum memasuki dunia akademik, Sulistianto sempat bekerja di sektor industri hingga akhirnya harus menerima kenyataan pahit: pemutusan hubungan kerja.

Alih-alih berhenti, momen tersebut justru menjadi titik balik. Tawaran dari seorang rekan lama membuka pintu ke dunia pendidikan—sebuah jalan yang kemudian ia yakini sebagai panggilan hidup.

Ketika ditanya lebih jauh dimana saja pengalaman nya mengajar, lelaki yang mempunyai 3 anak, 2 perempuan dan 1 lelaki ini menyatakan dirinya mengajar di banyak kampus sebelumnya.

"Saya mengajar di Universitas Nusa Mandiri dari 2005 hingga sekarang. Lalu di STMIk Jayabaya 2011-2020, UNKRIS 2016 hingga sekarang. Universitas Trilogi Pembangunan 2018. Dan Universitas Bisa Sarana Informatika 2021 hingga sekarang," jelasnya merinci.

Dengan latar belakang pendidikan Teknik Industri, Teknik Sipil, lanjut Magister Sistem Informasi dan Magister Ilmu Komputer, Sulistyanto mulai mengajar di beberapa kampus karena permintaan teman nya di kampus dimaksud.

Latar belakang keluarga yang juga dekat dengan dunia pendidikan memperkuat keyakinannya.

"Alhamdulillah, saya juga mendapatkan pelatihan kerja baik di dalam negeri maupun luar negeri." imbuhnya.


Sebelumnya lelaki berkacamata ini punya pengalaman bekerja di Industri Manufaktur, Pengawasan Proyek, Pendamping Wirausaha. Barulah belakangan dia menjadi tenaga pendidik hingga sekarang.

Meski demikian, Sulistianto tidak membungkus profesinya dengan romantisme berlebihan. Ia menjalaninya dengan cara sederhana: hadir, mengajar, dan terus beradaptasi.

Di ruang kelas, ia memilih pendekatan yang cair. Baginya, komunikasi yang setara lebih efektif dibanding metode yang kaku.

Saya mengajar seperti ngobrol saja. Menyesuaikan dengan mahasiswa,” katanya.

Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Ia memahami bahwa generasi hari ini membutuhkan ruang belajar yang relevan dengan dinamika zaman.

Pendidikan, menurutnya, tidak lagi cukup hanya menyampaikan teori, tetapi juga membangun koneksi dan pemahaman kontekstual.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Tidak jarang ia harus mengajar materi di luar zona nyamannya. Namun prinsipnya sederhana: seorang pendidik harus selalu siap.

Kalau diminta mengajar, harus siap,” tegasnya.

Bagi Sulistianto, capaian tertinggi bukanlah gelar atau penghargaan formal. Kepuasan sejati hadir ketika ilmu yang ia bagikan memberi dampak nyata dan diapresiasi oleh mahasiswa maupun lingkungan kampus.

Salah satu jejak kontribusinya adalah keterlibatan sebagai pelopor program PKM di institusi tempatnya mengajar sebelumnya—sebuah inisiatif yang mendorong mahasiswa lebih aktif berkarya.

Di tengah perubahan cepat dunia kerja, ia juga menaruh perhatian besar pada kesiapan mahasiswa.

Menurutnya, kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk berkompetisi di dunia profesional.

Ia menekankan pentingnya penguasaan soft skill—mulai dari kemampuan komunikasi, public speaking, hingga keterampilan kreatif seperti fotografi.

Dunia kerja, katanya, tidak dibangun oleh individu yang berjalan sendiri, melainkan oleh tim yang solid.

Soft skill itu penting. Karena kerja itu bukan individu, tapi tim,” ujarnya.

Pandangan ini menegaskan orientasi masa depannya sebagai pendidik: membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara sosial dan adaptif menghadapi perubahan.

Kisah Sulistianto memiliki seorang istri yang selalu setia mendampingi bernama Baridah ini menyatakan sebagai suami dirinya sangat menghormati istri sekaligus ibu dari anak-anaknya karena telah mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang mandiri dan jujur di dalam rumah tangganya, sementara dia mendidik para mahasiswa di luar sana.

Artikel berita profil ini jadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari rencana besar. Terkadang, ia tumbuh dari ketidakpastian, ditempa oleh kegagalan, lalu menemukan maknanya dalam konsistensi.

Di tengah tantangan pendidikan modern, sosok seperti Sulistianto menunjukkan bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, melainkan komitmen jangka panjang—untuk terus belajar, berbagi, dan menyiapkan generasi yang siap menatap masa depan. [■] 

Reporter: Nilam Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama