54 Orang, 140 Rasa: Halal Bihalal PWI Bekasi Raya Tetap Ramai Meski Separuh ‘Gaib’ Absensi, Tapi Nyata Akrabnya
kandidat-kandidat.com | Selasa, 31 Mar 2026, 16:05 WIB | Her/Why
— BEKASI RAYA | Ada yang unik dari halal bihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bekasi Raya tahun ini. Di tengah absensi yang—kalau dihitung pakai kalkulator warung—belum tembus angka 100, namun suasana di Aula Kantor PWI Bekasi Raya, Jalan Rawa Tembaga, Selasa (31/3/2026), justru terasa seperti reuni akbar wartawan se-Jagad Raya.
Kalau solid diukur dari jumlah, mungkin ini cerita lain. Tapi kalau diukur dari volume tawa dan kehangatan, halal bihalal PWI Bekasi Raya ini jelas over kapasitas—karena tak ada kursi kosong yang juga mau ikut merayakan dalam diam.
— BEKASI RAYA | Ada yang unik dari halal bihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bekasi Raya tahun ini. Di tengah absensi yang—kalau dihitung pakai kalkulator warung—belum tembus angka 100, namun suasana di Aula Kantor PWI Bekasi Raya, Jalan Rawa Tembaga, Selasa (31/3/2026), justru terasa seperti reuni akbar wartawan se-Jagad Raya.Tema yang diusung, “Silaturahmi Tanpa Sekat, Pers Tetap Kuat, Tegak Kritis dan Bermartabat”, langsung diuji sejak awal acara.
Yel-yel “PWI Bekasi Raya Solid!” yang dipimpin Sekretaris PWI Bekasi Raya, Michael Lengkong, menggema dengan penuh semangat—meski gema tersebut sempat terpantul-pantul mencari anggota lain yang mungkin masih di jalan, atau masih dalam perjalanan batin menuju kehadiran.
Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, S.H., dalam sambutannya tampil hangat sekaligus realistis. Ia mengucapkan permohonan maaf lahir batin, sekaligus mengajak anggota menjadikan momentum Idul Fitri sebagai ajang mempererat silaturahmi.
“Halal bihalal ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kita membersihkan hati dan memperkuat hubungan,” ujarnya, yang disambut anggukan penuh makna dari puluhan pasang mata—yang, jika dihitung, sekitar 54 pasang mata kehadiran fisik, dan sisanya mungkin hadir dalam bentuk support system spiritual.
Menariknya, dari total lebih 140 anggota, yang hadir tercatat sekitar 54 orang. Angka yang, bagi sebagian orang, mungkin disebut “kurang maksimal”.
Tapi bagi yang hadir, ini justru terasa seperti versi premium: lebih intim, lebih akrab, dan tentunya lebih mudah saat antre makan.
“Ke depan kita berharap partisipasi anggota bisa lebih aktif,” kata Ade, dengan nada yang terdengar seperti harapan tulus sekaligus reminder halus yang agak nyelekit.
Namun jangan salah. Meski secara kuantitas belum memenuhi target, secara kualitas, suasana acara bisa dibilang over-delivery.
Tawa pecah, obrolan ngalor-ngidul khas wartawan mengalir deras, dan momen saling bersalaman berlangsung hangat—bahkan ada yang sampai dua kali, mungkin untuk memastikan maafnya benar-benar clear cache.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan santap bersama lalu diakhiri foto bersama. Menu sederhana, tapi suasana luar biasa.
Bahkan ada yang berkelakar, “Yang nggak hadir, rugi dua kali: nggak dapat maaf, nggak dapat makan.” sayangnya yang berkelakar tak mau disebut namanya, dia takut terancam disiram air keras kayak aktivis KontraS kemarin lalu.
Di balik semua itu, halal bihalal ini seolah mengirim pesan satire yang lembut: bahwa “solid” kadang bukan soal berapa banyak yang datang, tapi seberapa hidup yang datang itu menghidupkan suasana.
Sisanya? Ya mungkin sedang solid… di grup WhatsApp.
Ade Muksin pun menutup acara dengan doa dan harapan agar seluruh anggota diberi kesehatan, umur panjang, dan kesuksesan dalam menjalankan tugas jurnalistik.


