Dari Tradisi jadi Sensasi—Festival ini Bukti Warga Masih Cinta Budaya: Sultan Bekasi H. Zaini Sidi Turut Hadir
kandidat-kandidat.com | Ahad, 19 April 2026, 14:36 WIB | NMR/DR
— KOTA BEKASI | Dentuman bedug bertalu-talu, diiringi riuh sorak warga yang memadati lapangan Kecamatan Mustika Jaya, menjadi penanda bahwa tradisi masih hidup—dan dirayakan dengan sepenuh hati.
Mustika Jaya mendadak heboh! Ribuan warga berbondong-bondong menyaksikan “duel” adu bedug paling seru tahun ini. Di tengah gemuruh suara dan sorakan, festival ini jadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih punya tempat istimewa di hati masyarakat.
— KOTA BEKASI | Dentuman bedug bertalu-talu, diiringi riuh sorak warga yang memadati lapangan Kecamatan Mustika Jaya, menjadi penanda bahwa tradisi masih hidup—dan dirayakan dengan sepenuh hati.Festival Adu Bedug dan Dondang yang digelar pada 18–19 April 2026 bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang temu bagi warga untuk merayakan identitas, kebersamaan, dan warisan budaya yang mereka jaga bersama.
Sejak hari pertama, suasana sudah terasa berbeda. Pawai ondel-ondel, alunan dondang, hingga tabuhan bedug dari berbagai perwakilan wilayah menghadirkan nuansa Betawi alias khas Bekasi yang kental.
Namun puncaknya terjadi pada Ahad (19/4), saat sekitar 12.000 warga tumpah ruah menyaksikan adu kreativitas yang menghadirkan tabuhan paling kompak, ritmis, dan atraktif.
Dari sudut pandang warga, festival ini bukan sekadar lomba. Ini adalah momen kebanggaan. Banyak yang datang bersama keluarga, membawa anak-anak mereka untuk mengenal budaya yang mungkin mulai jarang mereka lihat di keseharian.
“Kalau bukan kita yang ramaikan, siapa lagi? Ini budaya kita,” ujar salah satu warga yang hadir, sambil mengabadikan momen dengan ponselnya.
Kemeriahan acara juga tak lepas dari peran berbagai pihak, termasuk dukungan tokoh masyarakat yang dikenal sebagai Sultan Bekasi, H. Zaini Sidi, yang turut menjadi salah satu sponsor utama kegiatan.
Kontribusinya dinilai warga sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan ruang-ruang kebersamaan masyarakat.
Di sisi lain, kehadiran Walikota Bekasi Tri Adhianto bersama Camat Mustika Jaya Maka Nachrowi dan jajaran perangkat daerah mempertegas bahwa festival ini mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Namun bagi warga, yang lebih terasa adalah bagaimana acara ini benar-benar “hidup”—bukan sekadar seremoni.
Tri Adhianto dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah bukti kuat bahwa masyarakat masih mencintai budaya lokal.
Ia menyebut kegiatan seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan sekaligus membangun identitas daerah.
Hal senada disampaikan Camat Mustika Jaya Maka Nachrowi yang mengungkapkan bahwa festival ini telah dipersiapkan sejak usai Hari Raya Idul Fitri dan menjadi agenda rutin tahunan.
Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi seperti ini justru menjadi jangkar yang menjaga nilai kebersamaan dan religiusitas warga.
Bagi masyarakat Mustika Jaya, festival ini lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang kolektif—tempat warga saling bertemu, tertawa, dan mengingat kembali akar budaya mereka.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus berkembang, dentuman bedug seolah menjadi pengingat: bahwa tradisi tak pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang merayakannya bersama. [■]
Tags
Budaya
Budaya Bekasi
Camat
Camat Mustikajaya
Festival
Kecamatan
Kecamatan Mustikajaya
Maka Nachrowi
Pameran Seni Budaya
Seni Budaya
Seni Budaya Festival
Tri Adhianto

