Langkah Pemkot Ditunggu Hasilnya, Pasca 2 Bulan Terakhir Publik Dibuat Tegang oleh Aksi-Aksi Spontan di Lapangan
kandidat-kandidat.com | Selasa, 5 Mei 2026, 13:05 WIB | DR
— KOTA BEKASI | Proyek penataan kabel bawah tanah alias ducting di Kota Bekasi resmi diluncurkan. Namun di tengah semangat “rapi dan terkoordinasi”, publik justru masih sibuk mengingat adegan-adegan “potong kabel dulu, urusan belakangan” yang sempat jadi tontonan dua bulan terakhir.
Di tengah geli tawa satire, kekhawatiran publik tetap nyata. Gangguan pada jaringan serat optik bukan perkara sepele, karena berpotensi memengaruhi komunikasi antar instansi hingga masyarakat luas.
Peluncuran ducting di Kota Bekasi menjadi sinyal keseriusan pemerintah dalam menata utilitas kota. Namun sebagian warga masih harap-harap cemas, mengingat sebelumnya sempat muncul aksi pemotongan kabel yang dinilai berisiko terhadap sistem komunikasi—membuat istilah “rapi” kini punya makna baru: rapi secara rencana, atau rapi setelah kejadian?
— KOTA BEKASI | Proyek penataan kabel bawah tanah alias ducting di Kota Bekasi resmi diluncurkan. Namun di tengah semangat “rapi dan terkoordinasi”, publik justru masih sibuk mengingat adegan-adegan “potong kabel dulu, urusan belakangan” yang sempat jadi tontonan dua bulan terakhir.Walikota Bekasi, Tri Adhianto, dalam siaran persnya menegaskan bahwa proyek ducting harus menjadi awal yang kuat dan tidak berjalan setengah hati.
Komentar Sidik Warkop:“Betul, jangan setengah hati. Kalau mau potong kabel ya sekalian semua… biar sekota meditasi digital. Damai tanpa WiFi, mantap jiwa!”
Tri menyebut ducting ini sudah mulai berjalan dan harus berkelanjutan ke seluruh wilayah Kota Bekasi.
Sidik Warkop nyeletuk:“Iya, kemarin sudah berjalan… sambil bawa gunting. Sekarang lanjutannya mungkin bawa blueprint, biar nggak dikira lomba potong pita versi underground.”
Peluncuran ducting yang dikerjakan Mitra Patriot ini dilakukan di kawasan Taman Cut Mutia, sebagai titik awal integrasi jaringan kabel kota.
Sidik lagi:“Simbolis banget. Dari taman, semoga nanti nggak jadi taman kabel putus. Soalnya warga trauma lihat kabel diperlakukan kayak mie instan—tinggal potong, jadi.”
Tri juga menekankan pentingnya koordinasi antar pemangku kepentingan agar penataan utilitas tidak dilakukan secara parsial tanpa izin resmi.
Sidik menyela:“Koordinasi itu penting. Minimal sebelum motong kabel, tanya dulu: ‘Ini kabel siapa? Internet, CCTV, atau kabel charger mantan?’ Biar nggak salah potong, Pak.”
Ia mengungkapkan masih adanya pekerjaan galian tanpa izin di beberapa titik seperti Pondok Gede dan Jatiasih yang dilaporkan warga melalui media sosial.
Sidik berkomentar:“Warga sekarang laporannya bukan ke RT lagi, tapi ke Instagram. Caption: ‘Lagi-lagi galian misterius, apakah ini proyek atau ujian kesabaran?’”
Tri menegaskan pekerjaan seperti itu tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus resmi serta berkolaborasi dengan Pemkot.
Sidik menimpali:“Nah ini baru benar. Jadi ke depan motong kabel harus pakai SOP: Senyum, Observasi, Potong… eh salah! Maksudnya Stop, Observasi, Perizinan.”
Lebih lanjut, ia mendorong keterlibatan masyarakat dalam perencanaan hingga pengawasan melalui Musrenbang serta peran RT/RW.
Sidik nyeletuk lagi:“Warga siap kok dilibatkan. Minimal jadi pengawas dadakan: ‘Pak itu jangan dipotong, itu WiFi saya buat kerja!’ Partisipasi publik versi real-time.”
Tri juga meminta seluruh stakeholder, termasuk PDAM dan pihak swasta, untuk saling terhubung dalam setiap pekerjaan utilitas.
Sidik langsung nyambung:“Terhubung itu penting, Pak. Soalnya kemarin yang terjadi justru ‘terputus dengan penuh percaya diri’.”
Ia menambahkan bahwa galian tidak boleh dibiarkan begitu saja hingga merusak infrastruktur.
Sidik geleng-geleng:“Iya, jangan sampai jalan digali terus ditinggal. Itu bukan proyek, itu jebakan Batman… eh jebakan warga.”
Dengan sistem terintegrasi, Pemkot berharap pembangunan lebih efisien dan merata.
Sidik optimis (sedikit):“Semoga benar terintegrasi. Jadi nanti kalau ada yang motong kabel, minimal ada notifikasi: ‘Anda akan memutus 3 kecamatan, lanjutkan?’”
Pemkot Bekasi juga menggandeng berbagai pihak termasuk swasta untuk mendukung sistem utilitas yang lebih modern.
Sidik menutup dengan gaya khas:“Modern itu bagus. Tapi jangan sampai modernnya cuma di press release, sementara di lapangan masih pakai konsep ‘lihat kabel, potong dulu, mikir belakangan’.”
Bahkan spekulasi liar sempat menyeret isu gangguan sistem komunikasi ke berbagai kemungkinan ekstrem, termasuk keselamatan transportasi seperti kereta api —meski hal ini tentu masih membutuhkan investigasi serius dan tidak bisa disimpulkan sembarangan.
Yang jelas, warga Bekasi kini berharap satu hal sederhana: kalau mau merapikan kabel, jangan sampai komunikasinya duluan yang berantakan.[■]
Tags
David Rahardja
Dirut PTMP
Editorial
Infrastruktur
Opini
Pemkot
Pemkot Bandar Lampung
Proyek
Proyek Galian
Proyek Infrastruktur
PT Mitra Patriot
PTMP
Walikota




