"Karma Politik?" Yusuf Blegur Sentil Raja Juli Antoni: Jangan Sibuk Hujat Anies, Sejarah Punya Cara Unik Membalasnya
kandidat-kandidat.com | Kamis, 9 Juli 2026, 22:14 WIB | NMR/DR
— DKI JAKARTA | Pengamat sosial dan politik Yusuf Blegur menilai dinamika politik nasional sedang memperlihatkan apa yang ia sebut sebagai "hukum sebab-akibat politik".
Istilah "karma politik" memang bukan istilah hukum. Namun, itulah ungkapan yang mengemuka ketika Yusuf Blegur diminta Kandidat2 mengomentari derasnya serangan politik terhadap Anies Baswedan selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sejarah memiliki mekanisme sendiri untuk menguji siapa yang sekadar membangun citra dan siapa yang tetap menjaga integritas.
— DKI JAKARTA | Pengamat sosial dan politik Yusuf Blegur menilai dinamika politik nasional sedang memperlihatkan apa yang ia sebut sebagai "hukum sebab-akibat politik".Menurutnya, berbagai serangan, narasi negatif, hingga fitnah yang selama bertahun-tahun diarahkan kepada Anies Baswedan perlahan justru menjadi ujian bagi pihak-pihak yang dahulu paling vokal melancarkan kritik.
Dalam wawancara dengan Kandidat2, Yusuf membuka pandangannya dengan sebuah refleksi moral.
"Kekuasaan yang tak menghadirkan Ketuhanan lebih sering tampil tanpa kemuliaan. Terbiasa meninggalkan kemanusiaan, kerap mendatangkan kejahatan. Begitupun yang jauh dari keadaban, kian terasa dekat dengan kehinaan," ujarnya.
Menurut Yusuf, ungkapan Jawa "Ngunduh Wohing Pakarti"—memetik buah dari perbuatan sendiri—menjadi gambaran yang ia nilai relevan terhadap situasi yang kini dihadapi Sekretaris Jenderal PSI sekaligus Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni.
Ia mengaitkan penetapan tersangka terhadap Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, oleh KPK dalam perkara dugaan suap pengisian jabatan Sekretaris Daerah dengan menguatnya sorotan publik terhadap sejumlah tokoh politik di lingkaran kekuasaan, termasuk Raja Juli Antoni yang belakangan ramai memberikan klarifikasi terkait isu gratifikasi.
Bagi Yusuf, persoalan yang berkembang saat ini bukan semata persoalan hukum, melainkan juga menyangkut dimensi etika dan akuntabilitas politik.
Selama ini, kata dia, Raja Juli Antoni merupakan salah satu figur penting PSI yang dikenal aktif mengkritik bahkan menyerang Anies Baswedan melalui berbagai narasi politik yang diproduksi partainya.
"Publik tentu masih mengingat bagaimana berbagai isu, intrik, framing, hingga tuduhan terhadap Anies terus diproduksi secara berulang. Seolah tidak ada ruang bagi adu gagasan karena yang muncul justru personalisasi dan delegitimasi," ujar Yusuf.
Ia menilai pola komunikasi politik seperti itu pada akhirnya justru menciptakan polarisasi berkepanjangan dan mengikis kualitas demokrasi.
Yusuf juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai kecenderungan sebagian elite politik yang memanfaatkan kekuasaan untuk membangun citra sekaligus melemahkan lawan politik melalui berbagai narasi yang menurutnya belum tentu berlandaskan fakta.
"Siapa menabur angin akan menuai badai. Dalam kehidupan politik maupun kehidupan sosial, setiap tindakan memiliki konsekuensinya sendiri. Sejarah selalu memiliki caranya untuk menguji setiap orang," katanya.
Sebaliknya, Yusuf memandang Anies Baswedan selama ini memilih menghadapi berbagai serangan politik dengan pendekatan yang relatif tenang dan tidak reaktif.
Menurutnya, meski menjadi sasaran kritik, fitnah, maupun kampanye negatif dalam berbagai momentum politik, Anies tetap mempertahankan citra sebagai tokoh yang mengedepankan gagasan, etika, dan komunikasi yang lebih santun.
"Kesabaran, konsistensi, dan integritas adalah modal politik yang tidak bisa dibangun secara instan. Itu yang saya lihat pada sosok Anies. Ketika dihujat bertubi-tubi, ia justru memilih tetap bekerja dan menjaga martabat politiknya," tutur Yusuf.
Ia menambahkan bahwa kekuasaan pada akhirnya memiliki batas, sementara nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan integritas akan selalu menjadi ukuran yang dinilai masyarakat dalam jangka panjang.
Menutup wawancaranya, Yusuf mengingatkan bahwa kompetisi politik seharusnya tidak mengorbankan etika maupun kemanusiaan.
"Setinggi apa pun kekuasaan seseorang, tetap ada batasnya. Yang akan dikenang sejarah bukan hanya jabatan yang pernah dipegang, tetapi juga bagaimana kekuasaan itu dijalankan dengan kejujuran, keadaban, dan tanggung jawab kepada rakyat," pungkasnya.
Sebagai bagian dari penerapan prinsip keberimbangan, Kandidat2 telah berupaya meminta tanggapan kepada Menteri Kehutanan RI sekaligus Sekretaris Jenderal PSI, Raja Juli Antoni, terkait pandangan dan kritik yang disampaikan Yusuf Blegur dalam wawancara ini.
Wartawan Kandidat2 menghubungi nomor WhatsApp yang selama ini diketahui digunakan oleh Raja Juli Antoni untuk menyampaikan permohonan konfirmasi dan memberikan kesempatan menyampaikan klarifikasi maupun hak jawab atas berbagai pernyataan yang dimuat dalam pemberitaan ini.
Namun, hingga berita ini selesai disusun dan diterbitkan, pesan konfirmasi tersebut belum memperoleh respons dari yang bersangkutan.
Apabila di kemudian hari Raja Juli Antoni memberikan tanggapan atau menggunakan hak jawabnya, Kandidat2 akan memuatnya secara proporsional sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik. [■]
Tags
Anies Baswedan
Menerima Kehutanan
Opini
Opini Politik
Politik
Raja Juli Antoni
Sekjen PSI
Yusuf Blegur
