Studi Tiru ke Bantul Mahal Banget! Wiwiek & Kadis Dik Bekasi Pulang Bawa Apa? Kurikulum Baru atau Cuma Laporan PDF?
Tiket pesawat, akomodasi, konsumsi—studi tiru ke Yogyakarta itu nggak murah! Wiwiek Hargono dan Kadis Dik Chondro Wibowo baru saja kembali dari SLB Negeri 1 Bantul dengan misi mulia: meniru praktik baik pendidikan inklusi. Tapi, bagi warga Bekasi yang anaknya berkebutuhan khusus, kunjungan ini bukan soal foto-foto. Ini soal masa depan! Pertanyaannya: apakah anggaran yang keluar sebanding dengan kualitas program yang akan diadopsi? Jangan sampai setelah pulang, SLB Patriot masih gitu-gitu saja. Kalau begitu, namanya bukan studi tiru, tapi "studi buang-buang anggaran". Dan kami di Jabar-OL akan ingat itu!
— BANTUL | Di tengah terik matahari Jumat (11/9/2026), sebuah rombongan khusus dari Kota Bekasi mendarat di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.Bukan untuk wisata kuliner gudeg atau belanja batik, melainkan untuk sebuah misi yang jauh lebih berat: mencari "resep rahasia" agar anak-anak SLB Patriot Bekasi bisa mandiri tanpa harus selalu bergantung pada belas kasihan orang lain.
Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, bersama Kadisdik (Kepala Dinas Pendidikan) Chondro Wibowo dan para guru SLB Patriot, melakukan studi tiru ke SLB Negeri 1 Bantul. Tujuannya mulia: meniru praktik baik pendidikan inklusi dan keterampilan.
Namun, bagi warga Bekasi yang anaknya berkebutuhan khusus, kunjungan ini bukan sekadar foto-foto di depan papan nama sekolah. Ini adalah soal masa depan anak mereka.
Satire Lembut: Belajar Cuci Motor di Tanah Jawa
Mari kita bicara jujur. Ketika membaca rilis resmi tentang "pengembangan keterampilan", pikiran kita mungkin melayang ke hal-hal teknis yang muluk-muluk. Tapi di SLB Negeri 1 Bantul, realitanya justru sangat membumi—bahkan sampai ke level "cuci motor".
Ya, Anda tidak salah baca. Salah satu unggulan pelatihan di sana adalah cuci motor, selain tata boga, kriya kayu, hingga desain grafis. Bagi sebagian elit birokrat, mungkin ini terdengar sepele. Tapi bagi orang tua di Bekasi yang anaknya lulus SLB tapi bingung mau kerja apa karena ijazah akademiknya sulit diterima dunia kerja formal, "bisa cuci motor" atau "bisa bikin souvenir" adalah emas batangan. Itu adalah harga diri. Itu adalah kemandirian.
Pertanyaan kritisnya untuk Pemkot Bekasi: Apakah Wiwiek dan Kadisdik Chondro hanya membawa pulang oleh-oleh keripik kaca, atau benar-benar membawa pulang blueprint kurikulum yang bisa langsung dieksekusi di SLB Patriot?
Karena kalau cuma "studi tiru" lalu berakhir jadi laporan PDF yang indah di website pemkot, itu sama saja bohong. Warga butuh aksi, bukan dokumentasi.
Investigasi Harapan: Dari Honda & Alfamart ke Realitas Bekasi
Poin paling menyentil dari kunjungan ini adalah fakta bahwa lulusan SLB Negeri 1 Bantul sudah ada yang bekerja di perusahaan besar seperti Honda dan Alfamart, atau punya usaha sendiri. Ini bukti bahwa sistem di Bantul bukan teori di atas kertas.
Nah, sekarang giliran SLB Patriot Bekasi yang dites. Wiwiek bilang, "Kami ingin mereka memiliki kepercayaan diri, mampu berkarya, bahkan kalau memungkinkan bisa memiliki pekerjaan."
Kalimat "kalau memungkinkan" dalam rilis tersebut agak membuat kami geleng-geleng kepala. Kenapa masih ada kata "kalau"
Bukankah tujuan utama pendidikan luar biasa adalah memastikan mereka punya kehidupan layak, bukan sekadar memungkinkan jika sekadar cari rezeki?
Warga Bekasi menuntut kejelasan:
- Kapan Kurikulum "Cuci Motor & Kriya Kayu" Versi Bekasi Mulai Jalan? Jangan sampai menunggu tahun ajaran baru berganti lagi.
- Apakah Ada MoU dengan Dunia Usaha Lokal? Bantul punya Honda dan Alfamart. Kota Bekasi punya apa? Apakah pabrik-pabrik di beberapa wilayah kota Bekasi dan industri rumahan di Kota Bekasi sudah dilibatkan dalam rencana ini? Atau jangan-jangan setelah pulang dari Bantul, anak-anak SLB Patriot tetap belajar merangkai bunga di dalam kelas sementara di luar sana mereka butuh skill digital atau vokasi yang relevan dengan pasar kerja Kota Bekasi?
- Anggaran Pendukung: Studi tiru itu mahal. Tiket pesawat, akomodasi, konsumsi. Semoga anggaran yang keluar sebanding dengan kualitas program yang akan diadopsi. Jangan sampai biaya perjalanan habis jutaan rupiah, tapi implementasinya cuma ganti cat tembok sekolah.
Sentuhan Kritis Membangun: Jangan Sampai Jadi "Wisata Edukasi"
Kami mengapresiasi langkah Wiwiek Hargono dan Kadisdik Chondro Wibowo yang meluangkan waktu ke Bantul. Ini sinyal positif bahwa isu disabilitas mulai diangkat ke permukaan. Tapi, apresiasi itu harus disertai pengawasan ketat.
Studi tiru bukanlah liburan terselubung. Setiap rupiah APBD yang dipakai untuk tiket pesawat ke Yogyakarta harus dikonversi menjadi bangku kerja, alat praktik las/masak/komputer, dan mentor vokasi di SLB Patriot.
Kepada Bu Wiwiek dan Pak Kadisdik: Kami di Bekasi-OL dan Jabar-OL siap mengawal. Jangan biarkan kunjungan ini jadi sekadar "foto opportunity" demi pencitraan PKK yang peduli. Buktikan bahwa anak-anak SLB Patriot Bekasi suatu hari nanti bisa bangga bilang, "Saya lulusan SLB Patriot, saya punya skill, dan saya punya penghasilan," persis seperti teman-teman mereka di Bantul.
Kalau ternyata setelah studi tiru ini SLB Patriot masih gitu-gitu saja, wah... itu namanya bukan studi tiru, tapi "studi buang-buang anggaran". Dan warga Bekasi, terutama para orang tua hebat yang merawat anak spesialnya, pasti akan ingat itu. [■]
Reporter: Tim Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
Tags
Aksi Kemanusiaan
Chondro Wibhowo
Dinas
Dinas Pendidikan
Kadis
Kadisdik
Peduli Disabilitas
Pemkot Bekasi
Pendidikan
SLB Patriot
Wiwiek Hargono




