contoh iklan header
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Mbah Surip Telah Pergi Meninggalkan Misteri Kekayaan Royalti

JADWAL MANGGUNG PADAT HASIL TAK JELAS

Deden Gunawan - detik.com
Jakarta
- Sunarto begitu sumringah. VCD dagangannya sejak Selasa, 4 Agustus sore, laris manis. Tidak kurang dari 70 VCD album 'Tak gendong' yang dinyanyikan Mbah Surip ludes hanya dalam hitungan jam saja.

"Sejak sore hingga malam, pembeli umumnya membeli VCD Mbah Surip. Sampai-sampai saya harus pesan lagi ke bos," ujar pedagang yang mangkal di depan Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, kepada detikcom.

Sunarto mengatakan, rata-rata, pembeli VCD lagu Mbah Surip adalah anak-anak dan orang tua. Bahkan banyak anak-anak di bawah lima tahun yang merengek kepada ibunya untuk dibelikan VCD Mbah Surip.

Bukan hanya VCD bajakan 'Tak Gendong' saja yang laku keras. Keping CD asli yang dijual di sejumlah toko juga laris terjual. Bahkan, penjualan CD album asli karya Mbah Surip itu hanya bisa dikalahkan mendiang raja pop dunia, Michael Jackson.

"Untuk artis lokal CD Mbah Surip itu paling laris di sini. Yang mengalahkan cuma Michael Jackson," jelas Nanang, penjual CD asli album Mbah Surip di Blok M Plasa.

Lagu 'Tak Gendong' yang dirilis sejak pertengahan 2008 lalu memang telah menyihir masyarakat Indonesia beberapa bulan terakhir. Lagu berirama reggae itu mulai meledak dipasaran sejak Juni 2009.

Saking populernya, lagu 'Tak Gendong' selalu bercokol di peringkat atas sejumlah tangga lagu di radio-radio. Bahkan, 'Tak Gendong' juga menduduki peringkat teratas lagu yang paling banyak di download sebagai nada panggil atau ring back tone (RBT) di Indonesia. Kali ini, Mbah Surip mengalahkan RBT raja pop dunia, Michael Jackson dan d'Masiv yang sedang tren.

Bagi Mas Inung, sahabat Mbah Surip, moncernya sosok pria kelahiran Mojokerto, 6 Juni 1957 itu, bukan hal yang aneh. Sebab Mbah Surip dianggap sudah punya bakat yang siap meledak sewaktu-waktu.

"Sejak lama saya sudah menduga kalau Mbah Surip itu akan populer. Dia tidak berbahaya bagi siapapun. Dan sosoknya bagai petasan yang siap meledak suatu saat. Dan sekaranglah ledakan itu terjadi," kata Inung yang mengaku sempat menjadi guru vokal Mbah Surip, sejak 1983 sampai 1985.

Potensi yang dimiliki Mbah Surip, kata Inung, sudah terlihat sejak pertengahan 1980-an. Menurut pelatih vokal tenor ini, setiap pria nyentrik itu manggung di mana pun selalu mendapat aplaus dari penonton.

Ditambahkan Inung, fenomena Mbah Surip sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Hanya baru setahun terakhir ini, karir musik itu tercover secara luas di seluruh Indonesia. "Fenomena Mbah Surip itu sudah sejak lama. Hanya sekarang saja baru terpublikasi secara luas," tuturnya.

Namun sang sahabat ini justru menyayangkan, boomingnya nama Mbah Surip justru menjadi masalah tersendiri. Saat manggung di Kridosono, Yogyakarata, sebulan lalu, Inung melihat sahabatnya itu terlihat sangat kelelahan. Ia seperti terekslpolitasi.

"Sikapnya tidak meledak-ledak seperti dulu. Bagi saya itu sebuah firasat kalau Mbah Surip akan meninggal," jelas Inung yang mengaku sehari-hari sering ber-SMS-an dengan Mbah Surip.

Kesan yang sama juga disampaikan Anto Baret, sahabat Mbah Surip yang lain. Kepada detikcom, pimpinan Komunitas Penyanyi Jalanan ini mengaku, sehari sebelum wafatnya, Mbah Surip sempat mengirim pesan singkat yang mengatakan kalau dirinya merasa kelelahan.

"Sejak albumnya meledak dia memang banyak menerima order. Sedangkan kondisinya saat ini sudah semakin menua. Jadi wajar kalau dirinya merasa kecapekan," jelas Anto.

Dua bulan belakangan, Mbah Surip yang sebelumnya mengaku pernah bekerja di perusahaan pengeboran minyak itu memang kebanjiran order manggung. Dalam sehari, paling tidak Mbah Surip harus tampil di 5 acara. Lokasinya pun terkadang tidak berdekatan. Pagi di Jakarta, siang hari bisa di Bandung atau Yogyakarta.

Keterangan Petrus Idi Darmono dari manajemen Kampung Artis, setiap manggung Mbah Surip dibayar Rp 15 juta. Harga itu belum termasuk band pengiring.

Namun Petrus membantah kalau padatnya jadwal Mbah Surip karena order dari manajemen Kampung Artis. Kata Petrus, selam sebulan berada di naungan manajemen Kampung Artis, baru tiga kali mereka memberikan pekerjaan.

Petrus mengungkapkan, meski berada di bawah manajemen Kampung Artis, keputusan jadwal tetap ada di tangan Varid, anak keduanya. Jadi, mayoritas kegiatan manggung Mbah Surip ditangani Varid. Sekalipun dalam perjanjian, Kampung Artis akan menangani Mbah Surip sampai 3 tahun ke depan.

Lantas berapa omset Mbah Surip selama manggung? Petrus tidak bisa memastikan besaran jumlahnya. Alasannya, manajemen hanya 3 kali mengorder. Sementara Varid, yang disebut-sebut mendominasi jadwal manggung sang bapak, belum bisa memberikan keterangan.
(ddg/ken)
-------------------------------------------------------------------------

ROYALTI TAK PASTI, KEKAYAAN DITARIK KEMBALI


Deden Gunawan - detik.com
Jakarta - Satu unit rumah di Kampung artis, Cipayung, Depok, Jawa Barat dan mobil Suzuki APV warna biru tahun 2006 bernopol B 8155 GX, batal menjadi milik Mbah Surip. Setelah seniman nyentrik itu meninggal dunia, Manajemen Kampung Artis mengambil kembali rumah dan mobil tersebut. Alasannya, kontrak Mbah Surip belum rampung.

Tentu saja, lepasnya rumah dan mobil dari genggaman Mbah Surip itu mengejutkan. Sebab sebelumnya dikabarkan, rumah dan mobil itu adalah bonus atas moncernya album 'Tak Gendong' yang dirilis pria gimbal itu.

Namun hal itu dibantah staf manajemen Kampung Artis, Petrus Idi Darmono. Menurutnya, rumah dan mobil itu memang akan menjadi milik Mbah Surip jika kontrak selama tiga tahun selesai.

"Rumah itu bukan bonus tapi sebagai itikad baik kami kepada Mbah Surip. Dalam perjanjian antara kami dan Mbah Surip tertulis kalau rumah dan mobil itu jadi milik Mbah Surip kalau selesai kontrak," jelas Petrus saat ditemui detikcom.

Dijelaskan Petrus, kesepakatan kerjasama dengan Mbah Surip dimulai sejak Juni 2009 hingga 2012. Selama rentan waktu itu, setiap kegiatan keartisan Mbah Surip ditangani Manajemen Kampung Artis. Dan setelah tiga tahun, maka rumah berikut mobil itu akan resmi menjadi milik Mbah Surip.

Namun takdir berkata lain. Sebelum kontrak berakhir, Mbah Surip telah menghadap Sang Pencipta. Praktis, mobil yang rencananya untuk pria yang gemar berpenampilan ala rasta itu kembali ditarik Kampung Artis.

"Ya sekarang sudah kami tarik. Karena memang perjanjiannya seperti itu," ujar Petrus.

Lantas bagaimana dengan pemasukan Mbah Surip dari royalti album 'Tak Gendong' serta ring back tone (RBT) yang kabarnya hasilnya mencapai miliaran rupiah? Hingga berita ini diturunkan, Manajeman PT Falcon, sebagai perusahaan label yang menangani album Mbah Surip belum bisa dihubungi.

Alhasil, tidak ada gambaran secara yang pasti berapa keping CD 'Tak Gendong' yang telah laku di pasaran. Sedangkan untuk royalti dari RBT, beberapa operator seluler mengaku raihan yang didapat tidak seheboh yang digembar-gemborkan.

Public Relations Manager XL, Febriati Nadira mengatakan, total pelanggan RBT lagu Mbah Surip lewat XL hingga saat ini mencapai 70 ribu orang. Peningkatan jumlah orang yang mendownload lagu Tak Gendong terjadi sejak Juni 2009. Sementara lagu Tak Gendong mulai di jual XL sejak Juni 2008.

Soal pembagian royalti, Nadira menjelaskan, dari pemasukan Rp 2 ribu yang diterima akan dibagi dua, yakni untuk operator 50% dan pihak label 50%. Nah bagian Mbah Surip itu masuk dalam bagian yang diterima pihak label, yakni Falcon.

"Untuk mengetahui berapa royalti Mbah Surip dan RBT tanya ke Falcon. Karena Falcon yang akan membaginya kepada Mbah Surip," jelas Nadira.

Hal yang sama dikatakan Division Head Content Management PT Indosat Tbk Dhoya Sugarda. Menurutnya, untuk royalti RBT Mbah Surip, Indosat bekerja sama dengan Falcon. Jadi untuk urusan royalti tergantung kesepakatan Falcon dengan Mbah Surip.

Namun diakui Sugarda, lagu Mbah Surip memang lumayan laris dalam tiga bulan terakhir. Bahkan saat pria asal Mojokerto itu diketahui meninggal, orang yang men-download lagu 'Tak Gendong' mencapai 10 ribu orang dalam sehari.

Adapun total pen-download lagu 'Tak Gendong' lewat operator Indosat, sejak Februari 2009 hingga tanggal 6 Agustus ini, jumlahnya mencapai 210 ribu orang. "Itu jumlah total dari Februari 2009 sampai tadi pagi," terang Sugarda.

Dengan pembagian sistem bagi hasil, maka hasil yang diperolah Indosat dan Falcon masing-masing Rp 105 juta. Dan lagi-lagi jatah untuk Mbah Surip juga tidak diketahui berapa nilainya. Karena semuanya tergantung kesepakatan antara Falcon dengan Mbah Surip. Dan sayangnya, pihak Falcon hingga kini terus bungkam.

Beberapa kawan dekat Mbah Surip juga mengaku tidak mengetahui persis berapa penghasilan Mbah Surip setelah album 'Tak Gendong' meledak. Sebab Mbah Surip memang tidak pernah cerita apa-apa tentang penghasilan yang dia dapat.

"Mbah Surip itu orangnya lugu dan tulus. Dia tidak mau memusingkan berapa bayaran dalam setiap manggung. Bagi dia yang penting semua orang bisa senang," begitu kata Anto Baret, sahabat Mbah Surip. (ddg/ken)
Kandidat Calon Walikota Bekasi Heri Koswara

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
Kandidat Calon Walikota Bekasi, Heri Koswara