Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Motherland: Seni Bambang Asrini, Ibu dan Nilai Kebangsaan

iklan banner AlQuran 30 Juz

Negara Carut-Marut, Bambang Asrini Curhat ke Ibu Pertiwi Lewat Drawing di Kafe Darmin Kopi, Duren Tiga

kandidat-kandidat.com | Kamis, 15 Januari 2026, 21:23 WIB|• Selwa Kumar

Jika nasionalisme hari ini terasa seperti slogan kampanye yang kebanyakan font tapi minim isi, pameran Motherland hadir sebagai koreksi. Lewat drawing tentang ibunya yang wafat, Bambang Asrini menyelipkan pesan getir: bangsa ini mirip seorang ibu yang terus memberi, tapi sering dilupakan anaknya—terutama saat sudah duduk di kursi empuk kekuasaan.

 — JAKARTA | Hari Ibu nasional menjadi lebih istimewa, apalagi beririsan dengan momentum umat Kristiani tanggal 25 Desember 2025 lalu, yang memberi panggung besar tentang datangnya kasih dan cinta pada umat manusia dalam Perayaan Natal.

Pameran Motherland adalah sebuah ikatan sakral ingatan pelukis Bambang Asrini pada ibunya yang telah wafat dan ia menandainya dengan helatan pameran seni drawing kontemporer.


Gelaran seni rupa itu bertempat di galeri-kafe Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No.7e, Jakarta Selatan yang berlangsung dari 23 Desember 2025 – 16 Januari 2026.

Pembukaan pameran terlaksana pada Senin, 22 Desember, yang resmi dibuka oleh Erros Djarot. Seorang legenda sutradara Indonesia, budayawan serta aktivis politik.


Erros menyebut bahwa momentum Hari Ibu sejatinya mengembalikan tanggung-jawab komunal kita pada fundamen nilai-nilai nasionalisme dan rasa kasih privat pada perempuan yang melahirkan kita.

Karya-karya Bambang ini jadi instrumen pengingat, bahwa peran Ibu, baik sebagai ibu personal pun lebih luas, yakni Ibu Pertiwi memberi kita mawas diri bahwa bangsa ini patut dijaga." ungkap Erros.

Erros melanjutkan, "Sebab bangsa bagaikan seorang ibu yang selalu memberi dan merawat kita. Saatnya kita berbalas mengasihi sampai kapan pun.” ujarnya.

Saat sama, sebagai pelukis yang berpameran, Bambang menyatakan bahwa sebuah ekspresi seni rupa sebagai lahan refleksi pesan tentang kondisi mutakhir Tanah Air.

Seni menjadi instrumen kultural sebagai penanda, bahwa hakikatnya dalam diri seseorang atau sekelompok masyarakat mengalami nalar dan rasa terbangun imajinasi estetika bersama tentang Ibu biologis dan Indonesia,” imbuh Bambang.

Pembukaan dimeriahkan oleh kelompok performan Jala Bumi Kultura (JBK) yang dikoordinasikan performer Aendra Medita, yang ia menggelar tajuk “Tamiang” yakni merespon karya-karya pameran Motherland.

Performan berupa gerak tubuh, puisi dan sajian tari dengan napas kuat dan gerakan yang kuat.


Mereka bergerak dan menari diatas lumpur. Dengan suara yang tidak selalu berbunyi, dan gerak yang tidak selalu indah.
 
Performance art puisi, tari, dan gerak ini hadir sebagai ritual pembuka—sebuah panggilan bangsa dan bicara tanah yang sedang dilanda banjir, kepada luka, dan kepada ingatan kolektif Ibu Pertiwi yang sudah sebulan terjadi, di Sumatra khususnya Aceh,’’ kata Aendra.

Sementara itu, Imam Muhtarom, seorang pengamat dan kandidat doktor seni dari Universitas Indonesia dalam pengantar katalog menyatakan bahwa Karya Lukis Bambang menempatkan pertarungan secara dialektis antara gagasan mengenai keadilan dan kesejahteraan dalam berbangsa dan bernegara.

Helatan gambar-gambar di pameran Motherland, adalah waktu yang tepat di hari Ibu nasional, sebagai ungkapan seni bernarasi menyoal kebangsaan, selain cerita kontemplatif personal ibu almarhumah pelukis dan mengulik ingatan kehidupan berbangsa di Indonesia pada tingkatan kelas sosial yang tertindas dalam konteks keindonesiaan.” jelas Imam.

Seturut Dwi Sutarjantono, seorang pemerhati Seni dan gaya hidup, pameran Motherland seperti persembahan seorang anak kepada ibunya, selain persembahan seorang seniman kepada luka yang membentuknya.


Bambang juga mengandaikan bahwa pameran adalah persembahan seorang anak negeri kepada Ibu Pertiwi. Sejatinya, garis pada kertas dapat menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah pergi dan seni bisa menjadi rumah ketika dunia tidak lagi ramah selain arti kehilangan, betapapun menyakitkan, dapat melahirkan keindahan yang membuat kita mengerti tentang apa artinya menjadi manusia,” ujar Dwi menambahkan.

Pernyataan lain, datang dari Seno Joko Suyono, Founder Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) menyatakan bahwa seluruh karya gambar Bambang sesungguhnya adalah renungan kondisi carut marut masyarakat.

Seni gambar Bambang paralel dengan pamflet. Bambang ingin mengejar kesubliman dan keresahan eksistensial dengan caranya sendiri. Cara yang ditempuh dengan menggali ingatan atas tangan-tangan ibunya yang wafat dan berkarakter keriput sebagai perlambangan kolektif,” imbuh Seno.

“Gambar-gambar itu memetaforakan dari keputus-asaan sampai harapan. Karya-karya itu menyuarakan keresahan batin, keinginan dunia yang indah namun ternyata membentur ilusi;” ungkap Seno.

Pengantar lain di katalogus, yakni Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia menyatakan bahwa pameran ini patut disambut karena memperlihatkan metamorfose Bambang, dari seorang kurator, penulis dan aktivis seni rupa yang menunjukkan sisi dirinya sebagai seniman.

Kegelisahan yang selama ini ditulis dalam bentuk teks, sekarang diekspresikan melalui bahasa visual dalam bentuk drawing. Karyanya melalui berbagai tanda visual mengingatkan akan berbagai masalah di Indonesia. Yang jika dibiarkan, cita-cita luhur pendiri bangsa ini bakal kandas oleh ulah oligarkhi dan elite politik,” ujar Ilham.

Ilham menyatakan juga bahwa pameran Motherland ini, mengajak kita untuk kembali memakmurkan Ibu Pertiwi, membangun negeri yang telah susah payah dimerdekakan oleh para pendiri bangsa dengan mempertaruhkan harta benda, darah, keringat, dan nyawa.

Saat sama performer dan jurnalis, Aendra Medita menambahkan bahwa bahwa keseluruhan pameran seni rupa Motherland, menunjukkan bagaimana drawing sebagai medium dasar seni rupa memiliki kekuatan yang khas.

Garis yang spontan, cepat, namun bermakna, memungkinkan perupa menghadirkan suasana batin, gejolak sosial, dan ingatan sejarah secara bersamaan.


Mixed media yang digunakan Bambang menambah kedalaman tekstur visual, mempertegas bahwa identitas bangsa pun sejatinya adalah kolase dari banyak lapisan pengalaman dan nilai;” kata Aendra.

Karya-karya Bambang mengajak kita menundukkan kepala sejenak, membiarkan diri disentuh oleh ingatan, kemudian bangkit dengan kejelasan baru tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana bangsa ini hendak melangkah,” pungkas Aendra menutup di katalog pameran. [■]

Penulis: Selwa Kumar (aktivis budaya) - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama