Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Masjid Jangan Cuma Ramai Saat Jumat! Dialog Umat “Ngegas” Soal Peradaban

iklan banner AlQuran 30 Juz

Dialog Umat di Bekasi Timur Bersama Ust. Epen Supendi (ICMI Orda Kota Bekasi) & Ustadz Rizal Fadillah (TPUA)

kandidat-kandidat.com | Sabtu, 25 April 2026, 09:01 WIBNMR/DR

Suasana di Bekasi Timur mendadak “panas tapi mencerahkan” saat para tokoh umat berkumpul dalam Dialog Umat, Sabtu (25/4/2026). Pesan utamanya tajam: masjid tak boleh hanya hidup saat Jumat—ia harus menjadi pusat peradaban, tempat lahirnya keberanian, ilmu, dan perubahan sosial umat Islam.

 — BEKASI | Semangat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban kembali mengemuka dalam kegiatan “Dialog Umat” yang digelar pada Sabtu, 25 April 2026.

Bertempat di Masjid Al Falah Durenjaya, acara ini menjadi ruang temu gagasan antara ulama, aktivis dakwah, dan masyarakat dalam memperkuat peran strategis masjid sebagai motor perubahan sosial.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Masjid Al Falah ini mengusung tema besar: “Masjid sebagai Pusat Peradaban untuk Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar demi Kemajuan dan Kejayaan Islam.

Tema tersebut tidak sekadar menjadi jargon, melainkan dijabarkan dalam diskusi yang tajam, reflektif, dan kontekstual terhadap tantangan umat hari ini.


Acara menghadirkan Epen Supendi sebagai narasumber pembuka, yang menekankan pentingnya revitalisasi fungsi masjid.

Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat edukasi, pemberdayaan ekonomi, serta konsolidasi umat.

Masjid harus hidup sepanjang waktu. Dari sinilah peradaban dibangun—melalui ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial,” ujarnya di hadapan jamaah yang memadati ruang utama masjid.

Sementara itu, pembicara utama Rizal Fadillah menyampaikan orasi intelektual yang mengaitkan peran masjid dengan dinamika sosial-politik nasional.

Ia menggarisbawahi bahwa dakwah amar ma’ruf nahi mungkar harus dijalankan secara berani namun tetap dalam koridor konstitusi dan etika keislaman.

Nama Rizal Fadillah sendiri belakangan menjadi perhatian publik setelah keterlibatannya dalam aksi klarifikasi ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada April 2025.


Bersama Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), ia sempat mendatangi Universitas Gadjah Mada serta kediaman Presiden di Solo guna meminta kejelasan terkait isu tersebut.

Dalam forum Dialog Umat, Rizal tidak secara eksplisit membahas polemik tersebut, namun menekankan pentingnya keberanian moral umat Islam dalam menyuarakan kebenaran.

“Masjid harus menjadi pusat keberanian intelektual dan spiritual. Dari sini lahir umat yang tidak hanya taat, tetapi juga kritis dan berintegritas,” tegasnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif jamaah yang mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari peran generasi muda di masjid hingga strategi menghadapi tantangan moral di era digital. 


Suasana dialog mencerminkan kebutuhan akan ruang-ruang terbuka yang mempertemukan gagasan keislaman dengan realitas kehidupan modern.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa masjid, jika dikelola secara visioner, dapat menjadi episentrum peradaban—tempat lahirnya solusi atas persoalan umat.

Dari Durenjaya, pesan itu menggema: kebangkitan Islam tidak hanya dimulai dari mimbar, tetapi dari kesadaran kolektif umat untuk menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama