iklan banner gratis
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Pendopo Mendadak Glamor! Jihan Fahira Datang, Wawali Bobihoe Sambut Ramah

iklan banner AlQuran 30 Juz

Silaturahmi Elite di Pendopo Walkot, Warga: Bukan Cuma Cinderamata, Tapi Juga Komitmen Pembangunan

kandidat-kandidat.com | Jumat, 3 April 2026, 10:03 WIBNMR/DR

Jihan Fahira Sambangi Pendopo, Warga Bekasi Berharap Bukan Sekadar Silaturahmi dan Foto Cantik
Kunjungan Anggota DPD RI ke Kantor Wawali Bekasi disambut hangat, tapi di balik senyum dan cinderamata, warga menanti hasil nyata untuk jalan, layanan publik, dan kesejahteraan kota.

 — KOTA BEKASI | Pendopo Walikota Bekasi pada Kamis siang tampak sedikit lebih semarak dari biasanya. Bukan karena macet di luar mendadak reda—yang tentu akan lebih menghebohkan—melainkan karena hadirnya sosok publik figur yang kini juga mengemban amanah sebagai anggota legislatif pusat, Jihan Fahira, selaku Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) provinsi Jawa Barat 

Kunjungan kerja sekaligus silaturahmi itu disambut langsung oleh Wakil Walikota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, di Pendopo Walikota.

Suasana pertemuan disebut berlangsung hangat, akrab, dan penuh nuansa kekeluargaan—jenis pertemuan yang biasanya membuat fotografer humas bekerja lebih keras daripada operator lampu lalu lintas di simpang Summarecon saat jam pulang kantor.

Namun bagi warga Kota Bekasi, yang paling penting bukan sekadar hangatnya ruang pertemuan, melainkan seberapa jauh kehangatan itu bisa menjalar ke persoalan sehari-hari: jalan yang butuh perhatian, layanan publik yang masih harus dipercepat, hingga kesejahteraan masyarakat yang sering kali terasa seperti janji yang masih menunggu tanggal realisasi.


Pertemuan ini menjadi bagian dari agenda resmi untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan lembaga legislatif di tingkat pusat.

Di atas meja diskusi, isu-isu strategis seperti pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, serta kesejahteraan warga menjadi topik utama.

Wakil Wali Kota Bekasi menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut.

Menurutnya, komunikasi langsung seperti ini penting agar program pembangunan antara pusat dan daerah tidak berjalan seperti dua kendaraan yang sama-sama menyalakan sein kanan tapi beloknya beda arah.

Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan kunci dalam mendorong percepatan pembangunan, khususnya di Bekasi,” demikian garis besar pesan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.


Sementara itu, Jihan Fahira menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari tugas untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus melihat langsung kondisi di lapangan.

Kunjungan ini menjadi bagian dari tugas kami untuk memastikan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan baik di tingkat pusat.” ujar Jihan Fahira.

Pernyataan itu tentu terdengar menenangkan bagi warga Bekasi, yang selama ini berharap suara mereka tentang banjir musiman, kemacetan, kualitas layanan administrasi, hingga pemerataan pembangunan tidak berhenti di level obrolan warung kopi atau grup WhatsApp RT.

Nuansa infotainment terasa semakin kental ketika pertemuan tidak hanya diisi diskusi formal, tetapi juga pertukaran cinderamata. 

Kota Bekasi melalui jajaran pemerintah kota memberikan oleh-oleh berupa batik khas Kota Bekasi serta cinderamata ikonik Bang Bek dan Mpok Asih.


Momen ini seolah menjadi simbol bahwa diplomasi daerah tak melulu soal dokumen dan proposal, tetapi juga soal sentuhan budaya lokal—dan tentu saja, sedikit sentuhan visual yang manis untuk kamera.

Bagi masyarakat, simbol-simbol tersebut tetap penting selama berujung pada manfaat nyata. Sebab warga Bekasi, yang setiap pagi berjibaku dengan lalu lintas dan setiap musim hujan akrab dengan kecemasan genangan, tentu berharap kunjungan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial dengan narasi manis dan senyum protokoler.

Yang ditunggu adalah kabar lanjutan: apakah ada percepatan anggaran, dukungan kebijakan pusat, atau program konkret yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.


Karena pada akhirnya, warga tidak hanya ingin melihat batik dan cinderamata berpindah tangan, tetapi juga ingin melihat aspirasi mereka benar-benar sampai ke meja pengambil keputusan di Jakarta.

Di mata publik, kunjungan ini adalah momentum baik. Tapi seperti yang sering jadi bahan candaan warga Bekasi:
Yang penting bukan cuma kopi hangat di pendopo, tapi jalan depan rumah juga ikut mulus.

Kalimat yang terdengar jenaka, namun sesungguhnya menyimpan harapan paling serius dari masyarakat. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama