Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Sertifikasi Chef Naik Kelas BNSP, Wartawan Tetap Lapar BNSP (Badan Ni Selalu Puasa)

iklan banner AlQuran 30 Juz

Dapur SPPG Digenjot Standar Nasional, Program MBG Makin Serius—Tapi Media Cuma Bisa Nonton Sambil Nelen Ludah. Kan Lagi Puasa!?

kandidat-kandidat.com | Sabtu, 14 Maret 2026, 18:05 WIBNMR/DR

Di tengah semangat meningkatkan kualitas gizi masyarakat lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG), para tenaga dapur justru naik kelas lewat pelatihan dan sertifikasi chef. Sementara itu, seorang wartawan yang meliput hanya bisa naik tensi… karena lapar tapi tak berhak ikut makan.

 — KOTA BEKASI | Pelatihan dan sertifikasi chef yang digelar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bekerja sama dengan Pasatama Institute di Amaroossa Grande Hotel Kota Bekasi, selama dua hari sejak Sabtu (14/3) sampai Ahad (15/3/2026), menjadi panggung serius bagi para pejuang dapur.

Mereka datang dari berbagai daerah, membawa satu misi: membuktikan bahwa masak itu bukan sekadar tumis-menumis, tapi juga soal standar nasional.

Di ruang pelatihan, aroma profesionalisme lebih terasa daripada aroma bawang goreng. Para peserta digembleng mulai dari higienitas, keamanan pangan, hingga teknik memasak yang sesuai standar industri. Semua serba terukur, bahkan mungkin sampai kadar garam pun bisa kena audit.


Komentar Pengamat Kuliner, SidikWarkop:
Gue suka konsepnya. Jadi kalau masakan keasinan, itu bukan salah perasaan lagi… tapi salah standar nasional. Tinggal lapor ke BNSP, bukan ke emak!

Program ini tak sekadar mengajarkan cara mengiris bawang tanpa drama air mata, tapi juga memastikan setiap tenaga dapur punya kompetensi resmi yang diakui negara.

Targetnya jelas: dapur-dapur pelayanan gizi, termasuk SPPG, bisa menyajikan makanan yang sehat, aman, dan tentu saja tidak bikin netizen berdebat di kolom komentar.

Di sisi lain, program MBG yang sedang digalakkan pemerintah memang membutuhkan SDM dapur yang mumpuni. Sebab, memberi makan bergizi ke masyarakat itu bukan perkara “yang penting kenyang”, tapi juga “yang penting benar”.


Komentar Pengamat Kuliner, SidikWarkop: Ini beda ya sama masakan anak kos. Kalau anak kos: yang penting hidup. Kalau ini: yang penting sehat, bergizi, dan bisa dipertanggungjawabkan… bahkan mungkin sampai akhirat.

Salah satu peserta yang terlihat paling antusias adalah Chef Usep Warman, tenaga dapur dari SPPG Sudimara Barat, Ciledug, Kota Tangerang.

Ia mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan serius, dari teori hingga uji kompetensi, tanpa sekalipun terlihat nyicipin diam-diam—sebuah pencapaian moral yang patut diapresiasi.

Menurut Usep, pelatihan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana dapur seharusnya dikelola secara profesional.

Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan, keamanan bahan pangan, hingga teknik memasak yang sesuai standar kesehatan.

Melalui sertifikasi chef ini kita menunjukkan bahwa para pelaksana di lapangan memiliki kompetensi yang jelas dan terukur. Ini menjadi bukti bahwa kita mampu menjalankan program negara dengan baik serta memberikan layanan berkualitas kepada masyarakat,” ujar Usep.

Komentar Pengamat Kuliner, SidikWarkop:
Gue percaya sama Usep. Soalnya kalau udah ngomong ‘terukur’, berarti masaknya nggak lagi pakai ‘kira-kira secukupnya’. Itu biasanya bumbu paling berbahaya di Indonesia.

Usep juga menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada bahan makanan, tetapi juga pada kemampuan tenaga dapur dalam mengolah dan menyajikannya.

Dengan kata lain, daging ayam segar pun bisa jadi tragedi kalau dimasak tanpa ilmu.

Ia bahkan mengajak rekan-rekan sesama tenaga dapur SPPG di berbagai daerah untuk ikut serta dalam program sertifikasi ini.

Baginya, sertifikasi bukan sekadar kertas, tapi bentuk tanggung jawab profesional terhadap masyarakat.

Bagi rekan-rekan yang belum mengikuti sertifikasi, saya mengajak untuk ikut serta dalam program ini. Sertifikasi menjadi salah satu bentuk komitmen profesional kita dalam mendukung program negara sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tambahnya.


Komentar Pengamat Kuliner, SidikWarkop:
Kalau semua dapur udah tersertifikasi, insyaallah nggak ada lagi menu ‘misterius’ yang rasanya bikin kita bertanya: ini ayam apa kenangan mantan?

"Basi banget!?" Hehehe...

Secara lebih luas, pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem profesi kuliner di Indonesia.

Dengan standar yang jelas, para pelaku kuliner tidak hanya bisa bersaing secara profesional, tapi juga berkontribusi dalam program sosial seperti MBG.

Harapannya, ke depan semakin banyak tenaga dapur yang tersertifikasi, sehingga kualitas pelayanan gizi masyarakat bisa meningkat secara konsisten dan berkelanjutan.

Komentar Pengamat Kuliner, SidikWarkop (sambil nahan lapar):
Gue sih dukung penuh program ini. Cuma satu masalah… sebagai wartawan, gue cuma bisa liputan, bukan ikutan makan. Jadi kalau ada program ‘Makan Bergizi Gratis untuk Wartawan yang Setia Meliput’, tolong kabarin. Ini perut juga bagian dari bangsa, butuh perhatian negara.” [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama