Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Pabrik Narasi Beroperasi Lagi: Video Dipotong, Emosi Dipanen!

iklan banner AlQuran 30 Juz

Industri Potong Video: Ketika Narasi Diproduksi, Kebenaran Ditinggal di Ruang Editing


Dugaan manipulasi konten kembali mencuat, publik diminta berhenti jadi konsumen mentah disinformasi. Satu video yang dipotong bisa menghasilkan ribuan amarah—dan semuanya dimulai dari tombol “edit”.

 — DKI JAKARTA | Dulu propaganda butuh mesin cetak dan strategi besar, namun kini cukup aplikasi edit video, koneksi internet, dan sedikit keberanian mengabaikan konteks. Hasilnya? Sebuah “realitas baru” yang bisa mengubah pidato damai menjadi bahan bakar konflik dalam hitungan menit.

Laporan Polisi (LP) yang diajukan oleh LBH Hidayatullah ke Mabes POLRI (Kepolisian Negara Republik Indonesia) terkait dugaan penghasutan dan penyebaran informasi menyesatkan kembali membuka tabir praktik lama dengan wajah baru: manipulasi konten digital.

Nama Ade Armando dan Abu Janda disebut dalam laporan tersebut. Namun yang lebih besar dari sekadar nama adalah pola—sebuah ekosistem penyebaran informasi yang kerap bermain di wilayah abu-abu antara opini, framing, dan disinformasi.

Dari Konten ke Komoditas Emosi

Video pidato Jusuf Kalla menjadi contoh terbaru bagaimana konteks bisa “dihilangkan dengan rapi”.

Dalam versi yang beredar, publik diarahkan pada kesimpulan tertentu. Padahal dalam versi utuh, pidato tersebut justru berbicara tentang pengalaman meredam konflik dan bahaya tafsir ekstrem lintas kelompok.

Yang terjadi bukan sekadar salah paham—melainkan produksi persepsi.

Dan di era ekonomi perhatian (attention economy), persepsi adalah komoditas. Semakin memicu emosi, semakin tinggi nilai sebarannya.

Ekosistem Bising: Siapa Diuntungkan?

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam ekosistem:
  • Konten dipotong agar dramatis
  • Narasi dipilih agar memancing reaksi
  • Distribusi dipercepat oleh algoritma
  • Dan publik dijadikan pasar emosi

Dalam pola seperti ini, kebenaran sering kali kalah cepat. Klarifikasi datang belakangan, biasanya saat opini sudah terlanjur terbentuk.

Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah”, tapi: siapa yang diuntungkan ketika masyarakat terpecah?

Proses Hukum dan Ujian Kewarasan Publik

Proses pelaporan pada Kamis, 29/Mei/2026!yang memakan waktu hingga hampir 12 jam di Mabes Polri menunjukkan bahwa perkara seperti ini tidak sederhana. Aparat harus memilah antara kebebasan berekspresi dan potensi pelanggaran hukum.

Namun di luar proses hukum, ada ujian yang lebih besar: kewarasan publik.
Karena sejujurnya, tanpa penonton yang mudah terpancing, konten manipulatif tidak akan laku.

Satire yang Terlalu Nyata

Kita hidup di masa ketika:
  • Video 30 detik bisa mengalahkan pidato 30 menit.
  • Potongan kalimat lebih dipercaya daripada konteks lengkap
  • Dan “feels true” sering dianggap lebih penting daripada “is true”

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin ke depan: bukan lagi fakta yang menentukan arah opini, melainkan siapa yang paling lihai mengedit.

Pesan untuk Publik: Jangan Jadi Bagian dari Rantai

Artikel ini bukan sekadar soal satu kasus. Ini tentang pola yang terus berulang.

Karena setiap kali kita:
  • Membagikan video tanpa cek konteks
  • Mengomentari tanpa verifikasi
  • Atau langsung percaya karena sesuai emosi
  • Kita sedang ikut memperpanjang umur disinformasi.

Dan mungkin, tanpa sadar, ikut menjadi bagian dari “tim editing” terbesar di negeri ini: netizen. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/Kandidat
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama