Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Plt Bupati Bekasi Hadiri Lebaran Bekasi ke-8 di Saung Jajaka Milik HK Damin Sada

iklan banner AlQuran 30 Juz

Di Tengah Gempuran Teknologi Modern, Warga Bekasi Minta Budaya Lokal Tak Tercerabut, Salah Satunya "Nyorog"

kandidat-kandidat.com | Ahad, 5 April 2026, 01:10 WIBNMR/DR

Di saat warga semakin akrab dengan layar ponsel dibanding ruang tamu tetangga, kekhawatiran soal pudarnya budaya lokal kembali mencuat. Gelaran Lebaran Bekasi ke-8 menjadi semacam “alarm keras” bagi masyarakat agar tradisi lama tidak kalah oleh derasnya budaya digital yang masuk tanpa rem.

 — BEKASI | Arus modernisasi yang begitu deras dan perkembangan teknologi informasi yang kian dahsyat memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat Bekasi.

Warga berharap budaya daerah yang selama ini menjadi identitas masyarakat tidak tercerabut oleh masuknya budaya modern yang semakin masif melalui media digital.

Harapan itu mengemuka dalam gelaran Lebaran Bekasi ke-8 yang berlangsung di Saung Jajaka, Kampung Gabus, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, Sabtu (4/4/2026).

Bagi masyarakat, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan simbol perlawanan budaya terhadap perubahan zaman yang berpotensi mengikis nilai-nilai lokal, terutama tradisi silaturahmi, penghormatan kepada orang tua, serta falsafah hidup yang menjunjung tinggi nilai ketimuran dan syariat agama.


Turut hadir sejumlah pejabat daerah dan unsur Forkopimda, di antaranya: Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, Ketua DPRD Kabupaten Bekasi H. Ade Syukron, S.HI., M.Si, Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol. Sumarni, S.I.K., S.H., M.H., Dandim 0509 Kabupaten Bekasi Letkol Inf. Michael Ronald Simbolon, S.Ip., M.H.I..

Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah karakter daerah yang semakin multikultural.

Bekasi ini multikultur, ada sekitar 48 negara dengan jumlah penduduk 3,4 juta jiwa. Tapi budaya kita tidak boleh hilang. Lebaran Bekasi ini adalah kultur yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.


Menurut Asep, tradisi seperti nyorog atau bersilaturahmi langsung kepada orang tua dan tokoh masyarakat harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman yang serba digital.

Ia juga memastikan pemerintah daerah akan menganggarkan kegiatan Lebaran Bekasi secara rutin setiap tahun sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga identitas budaya daerah.

Ke depan akan kita anggarkan secara rutin, karena ini bagian dari kebudayaan yang harus kita pertahankan agar tidak hilang,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lebaran Bekasi, HK. Damin Sada, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam atas mulai pudarnya adat dan budaya lokal di tengah derasnya pengaruh budaya luar yang masuk melalui teknologi informasi.

Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi pemerintah daerah untuk lebih serius mempedulikan pelestarian budaya Bekasi yang sejak lama menjadi napas kehidupan masyarakat.

Ini lah saatnya pemerintah kabupaten mempedulikan pelestarian budaya daerah yang menjunjung tinggi filosofi ketimuran dan syariat agama yang sudah menjadi gaya hidup warga masyarakat sejak lama,” ujar Baba Damin.

Ia menilai kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari, namun jangan sampai membawa dampak hilangnya jati diri masyarakat Bekasi.

Di tengah budaya komunikasi instan melalui media sosial dan aplikasi pesan, tradisi bertemu langsung, bersalaman, dan menjaga hubungan kekeluargaan tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Kalau budaya sampai hilang, lalu apa identitas kita sebagai orang Bekasi? Teknologi boleh maju, tapi budaya jangan sampai tercerabut,” katanya kepada awak media BekasiOL lewat WhatsApp nya.

Bagi warga Bekasi pada umumnya, kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Masuknya budaya modern melalui internet, media sosial, dan konten digital dinilai semakin memengaruhi pola hidup generasi muda.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah, tokoh budaya, dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Lebaran Bekasi pun diharapkan terus menjadi ruang pemersatu warga sekaligus pengingat bahwa kemajuan daerah tidak boleh dibayar dengan hilangnya akar budaya. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama