Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

MBG: Anak Sekolah Belum Sarapan Politik, Tapi Sudah Diajari Arti “Tunggakan”

iklan banner AlQuran 30 Juz

Dapur Berhenti Ngebul, Aktivis Mulai Curiga: Jangan-Jangan Program Gizi Nasional Lagi Masuk Season Thriller

kandidat-kandidat.com | Ahad, 24 Mei 2026, 16:29 WIBNMR/DR

“Jangan sampai program buat anak-anak ini malah jadi bancakan. Kalau ada dugaan korupsi, KPK harus turun periksa BGN!” tegas Imron.

 — KOTA BEKASI| Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dipromosikan sebagai “investasi emas generasi masa depan”, kini mulai terdengar seperti judul sinetron jam sahur: penuh harapan, air mata, dan episode yang makin bikin bingung warga.

Di sejumlah wilayah Kota Bekasi, terutama Bekasi Utara dan Bekasi Timur, distribusi makanan untuk pelajar mendadak tersendat. Bukan karena siswa mogok makan. Bukan juga karena tukang masak mudik kepagian.

Tapi diduga karena pembayaran dari pusat kepada sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum cair.

Akibatnya?
Dapur berhenti ngebul.
Panci mulai dingin.
Dan anak sekolah kembali menatap kantin dengan tatapan penuh filosofi ekonomi.

Program Miliaran, Tapi Dapur Nombok Duluan

Informasi yang beredar menyebut sejumlah SPPG sudah lebih dulu “gali lubang tutup dapur” demi menjalankan program MBG. Mereka membeli bahan baku dengan dana talangan sendiri sambil berharap penggantian biaya segera cair.

Tapi rupanya, harapan itu nasibnya mirip janji sinyal WiFi gratis di taman kota: ada tulisan “tersedia”, tapi nyambungnya kadang cuma di baliho.

Kalau uangnya macet berbulan-bulan, publik wajar bertanya: dananya ke mana?” ujar salah satu sumber internal SPPG yang memilih anonim.

Mungkin takut lebih cepat dipanggil auditor daripada dipanggil keluarga saat Lebaran.

Di lapangan, kondisi ini mulai memantik keresahan warga. Sebab program yang katanya demi masa depan anak bangsa malah membuat operator dapur berada di masa depan utang.

MBG: Makan Bergizi Gratis atau “Menunggu Budget Gagal”?

Buat masyarakat kecil, persoalan ini bukan sekadar administrasi. Ini soal logika sederhana rakyat: Kalau programnya besar, kenapa yang kerja di bawah malah nombok

Orang tua siswa mulai bertanya-tanya:

  • Apakah anggaran telat cair?
  • Atau jangan-jangan cairnya ke tempat lain?
  • Jangan sampai ayam di menu anak sekolah kalah cepat cair dibanding anggaran di birokrasi.

Di media sosial, warga bahkan mulai bercanda getir:

Anaknya dapat makan gratis, pengelolanya dapat puasa gratis.

Satire yang lucu di mulut, tapi pahit di kenyataan.

Aktivis Bekasi Mulai Panas: “Kalau Ada yang Main Anggaran, KPK Jangan Cuma Main Twitter”

Aktivis Bekasi, Imron, ikut bersuara keras. Nada kritiknya tidak lagi level “teguran halus”, tapi sudah seperti emak-emak kehilangan tabung gas subsidi.

Menurutnya, jika SPPG yang bekerja di lapangan tidak kunjung dibayar sementara laporan program terus berjalan di pusat, maka publik punya hak penuh untuk curiga.

Jangan sampai program buat anak-anak ini malah jadi bancakan. Kalau ada dugaan korupsi, KPK harus turun periksa BGN!” tegas Imron.

Kalimat itu langsung terasa seperti tamparan pakai nampan makan siang.

Imron juga menyatakan pihaknya akan melakukan investigasi ke sekolah-sekolah di Kota Bekasi untuk menghitung berapa banyak siswa yang terdampak akibat tersendatnya distribusi MBG.

Dan di titik ini, publik mulai sadar: yang sedang diuji bukan cuma kualitas makanan... tapi juga kualitas tata kelola negara.

Warga Indonesia Mulai Capek Jadi Penonton Episode yang Sama

Masyarakat sebenarnya mendukung program makan gratis. Siapa juga yang tidak mau anak-anak Indonesia makan sehat dan cukup gizi?

Masalahnya, rakyat sudah terlalu sering melihat pola yang sama:
  • Program diluncurkan megah
  • Anggaran triliunan diumumkan
  • Foto-foto seremoni tersebar
  • Tapi di lapangan… petugas nombok, dapur berhenti, rakyat bingung
Dan yang paling menyakitkan: anak sekolah lagi-lagi jadi korban eksperimen manajemen.

Kalau Dapur Saja Mati, Bagaimana Mau Cetak Generasi Emas?

Program MBG sejak awal dijual sebagai simbol kepedulian negara terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Tapi ketika dapur berhenti beroperasi karena tunggakan, publik mulai bertanya dengan nada makin sinis:
Ini program gizi nasional atau simulasi bertahan hidup?

Karena generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan slogan dan baliho. Anak-anak tidak kenyang oleh konferensi pers. Dan operator dapur tidak bisa membeli beras memakai semangat nasionalisme.

Kalau memang ada masalah administrasi, buka terang-terangan.

Kalau ada dugaan kebocoran, usut tanpa drama.

Karena kalau program sebesar ini sampai tersendat gara-gara urusan pembayaran, rakyat bisa kehilangan satu hal paling penting: kepercayaan.

Dan di negeri ini, kadang kepercayaan rakyat hilangnya lebih cepat daripada lauk pauk saat jam istirahat sekolah. [■]
Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama