Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Sekda Kota Bekasi, Junaedi Melantik Ketua DK3B, Sampaikan Pesan Walikota

iklan banner AlQuran 30 Juz

Seni Budaya Jadi Perekat Kota Heterogen, Warga Bekasi Titip Harapan Besar kepada DK3B 2026–2030, Ini Kata Sek Disparbud

kandidat-kandidat.com | Rabu, 13 Mei 2026, 17:17 WIBNMR/DR

Pelantikan pengurus baru Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) dinilai bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum merawat harmoni sosial di tengah wajah Kota Bekasi yang plural, padat, dan penuh dinamika urban.

 — KOTA BEKASI| Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri, padatnya permukiman urban, serta keberagaman latar belakang agama, suku, dan budaya masyarakatnya, Kota Bekasi selama ini dikenal sebagai “miniatur Indonesia”.

Di kota yang dihuni warga Betawi, Sunda, Jawa, Gorontalo, Ambon, Maluku, Manado, Batak, Minang, Tionghoa, hingga masyarakat pendatang dari berbagai daerah lainnya itu, seni budaya dianggap menjadi salah satu ruang paling cair untuk mempererat hubungan sosial antar warga.


Karena itu, pelantikan pengurus baru Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) periode 2026–2030 mendapat perhatian besar dari kalangan seniman, komunitas budaya, hingga masyarakat umum yang berharap seni tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi energi pemersatu kota.

Pelantikan yang berlangsung di Gedung Lingkungan Hidup Kota Bekasi pada 13 Mei 2026 itu menandai dimulainya babak baru penguatan ekosistem budaya di Kota Patriot.


Sebanyak 47 peserta dari berbagai komite seni dan komunitas budaya hadir dalam prosesi yang berlangsung khidmat namun meriah, diselingi pertunjukan tari, musik, dan musikalisasi puisi karya seniman lokal.

Ketua Umum DK3B, K. Alamsyah Pradja, menegaskan bahwa arah gerak DK3B ke depan akan berfokus pada tiga agenda utama: pelestarian, pengembangan, dan kolaborasi.

Menurut lelaki yang juga guru di SMPN 38 Kota Bekasi ini, seni budaya tidak boleh berhenti sebagai simbol nostalgia, melainkan harus menjadi gerakan hidup yang menyentuh masyarakat hingga tingkat akar rumput.


Bekasi bergerak, seni jadi jantung peradaban kota keren,” ujar Alamsyah kepada BekasiOL dan JabarOL sambil memberikan press releasenya kepada awak media.

Ia menegaskan bahwa DK3B akan mendorong pendokumentasian kesenian tradisional, pemberdayaan para seniman, serta membangun ekosistem budaya yang inklusif dan produktif.

Langkah tersebut dinilai penting agar seni budaya tetap relevan di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital.


Bagi warga Bekasi, gagasan itu terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Di tengah suhu politik yang kadang memanas, perbedaan keyakinan, hingga kesenjangan sosial akibat urbanisasi cepat, panggung seni sering kali menjadi ruang netral yang mempertemukan semua kalangan tanpa sekat.

Festival budaya kampung, pertunjukan lenong, pencak silat, tari tradisional, musik jalanan, hingga pentas kreatif anak muda kerap menjadi medium pertemuan sosial warga lintas agama dan etnis. Dari ruang-ruang itulah rasa kebersamaan tumbuh secara alami.

Walikota Bekasi, Tri Adhianto, melalui sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Junaedi, menekankan bahwa kebudayaan merupakan identitas penting yang membedakan Kota Bekasi dengan daerah lain.

Dalam sambutannya, Tri Adhianto menyampaikan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan industri dan infrastruktur semata.


Industri boleh jadi otot, tapi seni budaya adalah jiwa sebagai pemersatu rasa,” demikian pesan Walikota Bekasi dalam sambutan resminya yang dibacakan oleh Sekda Junaedi.

Pernyataan itu dianggap relevan dengan tantangan Kota Bekasi hari ini. Sebagai kota penyangga Jakarta dengan tingkat mobilitas tinggi, Bekasi kerap dipersepsikan hanya sebagai kota transit, kawasan industri, atau kota hunian padat tanpa identitas budaya kuat.

Padahal di balik wajah urban tersebut, Bekasi menyimpan potensi seni dan tradisi yang besar.

Mulai dari seni Betawi pinggiran, budaya Sunda urban, komunitas teater, sastra, musik independen, bahkan standup comedy ataupun komunitas seni komedi hingga kreativitas anak muda yang berkembang pesat di ruang-ruang publik dan media digital.


Karena itu, keberadaan DK3B diharapkan mampu menjadi jembatan antara pemerintah, seniman, komunitas, dan masyarakat luas agar kebudayaan tidak hanya hidup di acara seremoni tahunan, tetapi benar-benar menjadi denyut kehidupan kota.

Dari sudut pandang masyarakat, seni budaya juga memiliki dampak ekonomi yang nyata. Ketika festival budaya digelar, bukan hanya seniman yang bergerak, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang kaki lima, perajin lokal, komunitas kreatif, hingga sektor transportasi dan pariwisata ikut merasakan manfaatnya.

Warga berharap pemerintah daerah tidak memandang seni budaya sebagai sektor pelengkap pembangunan, melainkan sebagai investasi sosial dan ekonomi jangka panjang.

Apalagi di banyak kota besar dunia, identitas budaya justru menjadi daya tarik wisata utama yang menghidupkan ekonomi kerakyatan.

Bekasi dinilai memiliki peluang besar menuju arah tersebut apabila mampu mengelola potensi budayanya secara serius dan berkelanjutan.

Harapan itu kini berada di pundak kepengurusan baru DK3B periode 2026–2030 selaku mitra sejajar Dinas Pariwisata dan Budaya Pemkot Bekasi, dimana laporan pertanggungjawabannya pun kepada Walikota Bekasi.

Tantangannya tidak ringan. Selain menjaga kelestarian budaya tradisional, DK3B juga dituntut mampu merangkul generasi muda agar seni budaya tidak kehilangan regenerasi.

Kolaborasi lintas komunitas, ruang ekspresi yang terbuka, dukungan anggaran, serta keberanian menghadirkan event budaya kreatif berskala regional hingga nasional menjadi pekerjaan rumah yang dinanti publik.

Di tengah masyarakat Kota Bekasi yang heterogen, seni budaya dianggap bukan sekadar tontonan, melainkan perekat sosial yang mampu menjaga harmoni kota.


Ketika ruang publik dipenuhi karya seni, musik, tari, sastra, pertunjukan komedi dan kreativitas bentuk lainnya dari warga, maka perbedaan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kekayaan bersama.

Dan di situlah, seperti yang digaungkan DK3B, seni benar-benar dapat menjadi “jantung peradaban” Kota Bekasi, demikian yang hendak disampaikan oleh Ketua DK3B dan disetujui oleh Baba Rudy, salah satu tokoh senior budaya asli khas Betawi Bekasi yang juga sering mengadakan event pertunjukan seni budaya Bekasi di Kecamatan Medan Satria, khususnya Kampung Pondok Ungu.

Sementara Sekdis Parbud, Ki Maja menyatakan hal senada, bahwa DK3B adalah mitra sejajar Disparbud Kota Bekasi yang tentunya laporan pertanggungjawabannya langsung kepada Walikota Bekasi.

"Selaku lembaga swadaya mandiri yang diatur oleh perda dan dibuatkan SK nya oleh Walikota Bekasi, DK3B diberi wewenang untuk mengelola semua event acara yang berkaitan dengan Seni Budaya dan Pariwisata serta kegiatan usaha ekonomi kreatif kerakyatan, DK3B itu adalah mitra sejajar Disparbud Kota Bekasi," ungkap Ki Maja.

"Dimana nanti banyak event organizer baik lokal maupun nasional akan bertemu dengan Ketua DK3B dan berkoordinasi sehingga tugas kami di Dinas Parbud jauh lebih ringan dan lebih cepat," pungkas Ki Maja kepada awak media BekasiOL & JabarOL sesaat setelah acara selesai.  [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama