iklan banner gratis
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Coach Arsyam: Risiko Itu Nyata—Solusi Harus Praktis—Sertifikasi Bukan Momok

iklan banner AlQuran 30 Juz

Tanggapi Risiko Keracunan MBG, Pasatama Institute Tawarkan Pendekatan Akselerasi Kompetensi Aplikatif Murah

kandidat-kandidat.com | Ahad 12 April 2026, 13:05 WIBNMR/DR

Menanggapi isu risiko keracunan, Pasatama Institute dorong sistem pelatihan yang mudah, cepat, dan ramah dapur. Di tengah kekhawatiran soal keamanan pangan dalam program MBG, muncul pendekatan berbeda: bukan memperberat standar, tapi mempermudah jalan menuju dapur yang aman dan profesional.

 — BANDUNG| Opini yang mengemuka tentang besarnya risiko keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menegaskan satu hal yang tidak terbantahkan: skala program yang masif memang menuntut standar yang tinggi.

Namun di tengah kekhawatiran soal potensi keracunan, tantangan sertifikasi, hingga prinsip zero tolerance, muncul perspektif lain yang lebih membumi dan operasional.

Coach Arsyam Dwi Samto, Ketua Assesor Kompetensi dan Sertifikasi sekaligus Direktur Utama Pasatama Institute, menilai bahwa persoalan utama bukan terletak pada benar atau tidaknya kekhawatiran tersebut, melainkan pada bagaimana solusi diterjemahkan menjadi langkah yang mudah diakses, cepat diterapkan, dan tidak memberatkan pelaku dapur di lapangan.

Saya sepakat bahwa keamanan pangan adalah fondasi. Tapi kalau fondasi itu kita bangun dengan cara yang terlalu rumit, mahal, dan lama, maka pelaku di lapangan justru akan kesulitan mengejarnya,” ujar Coach Arsyam.

Dari Kekhawatiran ke Solusi Praktis
Dalam opininya, penulis menekankan bahwa keamanan pangan adalah order qualifiersyarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Coach Arsyam tidak menolak prinsip tersebut. Namun ia menilai bahwa pendekatan yang terlalu normatif berisiko menciptakan jarak antara standar ideal dan realitas dapur SPPG di lapangan.

Menurutnya, pendekatan yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar mendorong sertifikasi, tetapi mempermudah jalan menuju sertifikasi itu sendiri.

Yang dibutuhkan bukan hanya standar tinggi, tapi tangga yang realistis untuk mencapainya,” katanya.

Dalam konteks ini, ia menawarkan pendekatan bertahap:
  • mulai dari pelatihan dasar food handling
  • dilanjutkan uji kompetensi sederhana
  • hingga sertifikasi sistem seperti HACCP dan ISO

Artinya, sertifikasi tidak diposisikan sebagai “ujian akhir yang menakutkan”, tetapi sebagai proses belajar yang bertahap dan terstruktur.

Zero Tolerance, Tapi Zero Barrier Juga Penting
Opini tersebut menyoroti prinsip zero tolerance terhadap risiko keracunan.

Bagi Coach Arsyam, prinsip ini tetap relevan, namun perlu diimbangi dengan konsep lain yang tak kalah penting: zero barrier (tanpa hambatan) bagi pelaku dapur untuk meningkatkan kompetensi.

Kalau kita ingin zero tolerance terhadap risiko, maka kita juga harus zero barrier terhadap akses pelatihan dan sertifikasi,” tegasnya.

Ia menilai, selama ini tantangan di lapangan sering kali bukan pada kemauan pelaku dapur, melainkan pada:
  • biaya sertifikasi yang dianggap tinggi
  • akses pelatihan yang terbatas
  • waktu yang tidak fleksibel
  • kurangnya pendampingan teknis

Akibatnya, standar tinggi justru terasa seperti beban, bukan kebutuhan.

Sertifikasi Bukan Sekadar Administratif
Menanggapi kekhawatiran bahwa sertifikasi bisa menjadi sekadar formalitas administratif, Coach Arsyam justru menekankan pentingnya menghidupkan sertifikasi sebagai alat perubahan perilaku kerja.

Menurutnya, sertifikasi yang efektif harus:
  • berbasis praktik, bukan teori semata
  • mudah dipahami oleh pekerja dapur
  • langsung bisa diterapkan di hari yang sama
  • memiliki monitoring berkelanjutan

Kalau sertifikasi hanya jadi kertas, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi kalau sertifikasi mengubah cara orang bekerja di dapur, itu baru berdampak,” ujarnya.

Menjawab Skala Besar MBG dengan Sistem yang Adaptif
Dengan target puluhan juta penerima manfaat, MBG memang masuk dalam kategori program pangan terbesar di dunia.

Namun justru karena skalanya besar, menurut Coach Arsyam, pendekatannya tidak bisa seragam dan kaku.

Diperlukan sistem yang:
  • adaptif terhadap kondisi daerah
  • fleksibel terhadap kapasitas dapur
  • bertahap dalam implementasi standar
  • berbasis pendampingan, bukan sekadar inspeksi.

Sedikit satire halusnya: kalau semua dapur langsung diminta lulus standar internasional dalam semalam, yang terjadi bukan percepatan—tapi kepanikan kolektif.

Pasatama Institute Tawarkan Model Akselerasi
Sebagai bagian dari solusi, Pasatama Institute saat ini tengah menjalankan program:
  • pelatihan cepat (fast track training)
  • uji kompetensi berbasis praktik
  • sertifikasi bertahap
  • pendampingan dapur SPPG
  • simulasi HACCP sederhana

Model ini dirancang agar pelaku dapur tidak merasa “dikejar standar”, tetapi justru merasa didampingi untuk naik kelas.

Catatan Redaksi
Opini tentang risiko MBG memberi peringatan yang penting.

Namun seperti diingatkan Coach Arsyam, peringatan saja tidak cukup.

Yang dibutuhkan adalah jalan keluar yang bisa dilalui, bukan sekadar peta yang indah dilihat.

Karena pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi standar ditetapkan, tetapi oleh seberapa banyak dapur yang mampu mencapainya secara nyata. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Silakan beri komentar yang baik dan sopan

Lebih baru Lebih lama